Sebelum “wabah” Facebook menyebar ke hampir seluruh pelosok dunia terutama di Indonesia, ada satu situs jejaring sosial yang lebih dulu “mewabah” di Indonesia, yaitu situs Friendster. Ya, situs ini sempat sangat popular di zamannya, ya lebih kurang sejak tahun 2005-an sampai dengan sekitar pertengahan 2008. Pengguna situs pertemanan ini rata-rata adalah para remaja usia 13 – 20-an tahun. Namun, di bulan Agustus 2008, menurut pengamatan saya, banyak orang yang sudah mulai beralih ke situs Facebook hingga sampai saat ini Facebook benar-benar menjadi salah satu situs terpopular di dunia, khususnya di Indonesia, sementara Friendster kini mulai ditinggalkan.
Dari ketiga pasang capres dan cawapres tersebut, pasangan SBY-Boediono berhasil memenangkan lebih dari 50% suara rakyat berdasarkan hasil quick count berbagai lembaga survei (baik lembaga survei independent maupun lembaga survei stasiun televisi). Selain itu juga, sebelumnya berdasarkan hasil exit poll, pasangan dengan nomor urut 2 ini juga memperoleh suara lebih dari 50%. Sementara itu, jika kita melihat ke belakang ketika dalam acara-acara debat capres dan cawapres yang disiarkan oleh beberapa stasiun televisi swasta di tanah air, hasil survei polling SMS juga menunjukkan bahwa masyarakat masih memilih pasangan SBY-Boediono dibandingkan kedua pasangan lainnya. Ini artinya baik dari hasilpolling SMS, exit poll maupun quick count, tidak jauh berbeda, dan tentunya hasil dari KPU pun tidak akan jauh berbeda dari perhitungan quick count. Mengapa? Karena tentunya seluruh lembaga survei yang mengadakan quick count menggunakan metode-metode yang harus bisa dipertanggungjawabkan, apalagi hasil quick count ini disiarkan di berbagai siaran televisi di seluruh tanah air. Hasil quick count ini tentu sangat berhubungan dengan reputasi si lembaga survei, jadi rasanya sangat tidak masuk akal kalau si lembaga-lembaga survei ini melakukanquick count yang tidak tepat.
Nah, berdasarkan hasil quick count beberapa lembaga survei, pasangan SBY-Boediono menang mutlak. Lalu, bagaimana pendapat kedua pasangan lainnya? Ternyata tidak ada yang benar-benar berjiwa besar. Tidak ada yang benar-benar mengakui kekalahan. Yang ada justru malah mencari-cari alasan dan kesalahan pihak lain. Salahkan si A, si B, si C. Salahkan pemerintah, KPU, tim sukses, dsb. Loh, kenapa begitu? Bagaimana bisa menjadi pemimpin kalau untuk menerima kekalahan saja tidak bisa? Saya jadi teringat dengan pemilihan capres dan cawapres di Amerika Serikat antara Obama melawan McCain. Kedua calon ini jelas sangat berbeda. Benar-benar berbeda. Perbedaan paling mencolok adalah dari warna kulit. Perbedaan lainnya adalah masalah pandangan-pandangan politik, ekonomi, dsb. Dalam berbagai kesempatan kampanye atau pun debat, tidak jarang kedua rival ini saling menyindir dan bahkan terkesan menjatuhkan lawan. Namun, apa yang terjadi pada saat pemilihan berlangsung? Hasilquick count di malam hari memperlihatkan bahwa Obama unggul mutlak dari lawannya McCain. Apa yang terjadi? Kedua kubu saling berpidato di depan massanya masing-masing. Di suatu tempat, Obama dan Biden disambut meriah oleh ribuan rakyat AS yang berkumpul untuk merayakan kemenangannya. Obama berpidato dan mengucapkan terima kasih pada rakyat AS dan juga mengatakan bahwa AS telah membuat perubahan dan malam itu sejarah baru AS dimulai, tetapi tidak lupa juga untuk mengucapkan terima kasih kepada lawannya McCain. Sementara itu di suatu tempat di kubu Republik, McCain berpidato di hadapan pendukungnya dan mengatakan bahwa hari itu, rakyat AS telah memilih. Inilah pilihan rakyat AS dan kita harus menghormati itu. McCain juga mengatakan bahwa dia telah menelepon Obama dan mengucapkan selamat kepadanya, dan tidak lupa McCain berpesan pada seluruh pendukungnya bahwa mereka semua harus mendukung sang presiden terpilih karena dia adalah pilihan AS. Dan perlu diingat bahwa pada malam itu belum ada hasil resmi bahwa Obama yang menjadi pemenang, tapi hasil quick count dari lembaga survei di AS menunjukkan bahwa Obama menang mutlak. Artinya quick count tersebut sudah bisa mencerminkan hasil resmi dari pemilihan tersebut. Sama halnya di Indonesia, mengapa mesti “gerah” dengan hasil quick count? Mengapa mesti tidak terima dengan hasil tersebut?
Wah, sebenarnya sungguh indahnya demokrasi di AS. Sungguh indahnya pesta rakyat tersebut. Yang menang tidak terlalu berbangga diri, yang kalah tidak berkecil hati, justru sangat berbesar hati. Mungkin bagi yang menang sudah wajar untuk bersenang hati, tapi tidak mudah bagi yang kalah untuk tetap berjiwa besar, seperti apa yang dilakukan McCain dengan menghimbau seluruh pendukungnya untuk tetap mendukung pemerintahan Obama karena itulah pilahan rakyat. Hal inilah yang tidak ada di Indonesia. Banyak yang ingin jadi pemimpin. Hanya ingin, tapi tidak siap. Ingin menang, tapi tidak siap kalah. Kenapa sih harus mencari-cari kesalahan orang lain. Kenapa sih harus menjadi oposisi, seolah-olah sudah ada jaminan bahwa pemerintah yang akan datang akan melakukan hal-hal yang menyulitkan rakyat dan merugikan negara? Jika memang (katanya) mencintai negeri ini, pro pada rakyat, kenapa kita tidak bersama-sama membangun negeri ini? Bukankah itu lebih indah? Sudah seharusnya, siapa pun yang menang, semua pihak harus mendukung yang menang. Dan yang kalah bukan berarti benar-benar kalah. Saya rasa tidak semua orang di negeri ini bisa memiliki kesempatan untuk menjadi capres dan cawapres. Mereka bertiga sebenarnya sudah menjadi orang-orang hebat. Namun, tentunya kita hanya memiliki satu orang presiden dan satu orang wakilnya. Tidak bisa ketiganya menang. Dan memang dalam sebuah kompetisi pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Yang kalah sepatutnya menerima kekalahan dengan ikhlas. Tapi ketika yang kalah tidak mau menerima kekalahan, justru orang itu tidak pantas menjadi pemimpin, orang itu akan benar-benar terlihat kalah. Karena hanya pemimpin sejatilah yang mau menerima kekalahan dengan jiwa besar dan menerima kemenangan dengan penuh tanggung jawab.
Dalam menulis artikel ini, sungguh saya tidak ada maksud untuk membela atau menonjolkan salah satu pasangan yang menjadi pemenang, terlebih lagi saya tidak ada maksud untuk menjelekkan pasangan lainnya. Hanya saja, saya sangat prihatin dengan sikap yang ditunjukkan oleh pasangan lainnya. Jadi, kenapa kita tidak bersikap legowo atau berlapang dada? Mari kita semua bersikap sportif. Mari kita bangun mental champion bukan sekedar mental winner. Sesungguhnya Indonesia ini bisa menjadi negara yang lebih baik lagi, dan saya percaya akan hal itu.
Indonesia telah memilih. Inilah pilihan rakyat. Tidak ada yang perlu merasa untung dan rugi karena ini bukanlah bisnis. Tidak ada yang perlu merasa terlalu senang atau kecewa karena bagaimanapun juga kita semua yang turut serta membangun negeri ini. Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu jua. Itulah Indonesiaku yang seharusnya.
Wah, apakah MBJ itu? Nah, sebelum membahas ke arah MBJ, gw mau mencoba untuk mengangkat akar masalahnya dulu, hmm… jadi lebih kurang begini, sampai saat ini di UI pada umumnya dan FISIP pada khususnya masih mengenal suatu kegiatan penerimaan mahasiswa-mahasiswa baru yang kalo bahasa sekarang dikenal dengan nama inisiasi, kalo jaman dulu lebih dikenal dengan ospek, ya… sebenarnya sih sama aja, toh, baik ospek maupun inisiasi intinya adalah memberikan masa orientasi atau pengenalan terhadap lingkungan kampus dari para senior kepada para mahasiswa baru (baca: junior), cuma kayaknya kalo ospek kesannya lebih negatif dan agak menyeramkan. Emang kenapa? Ya… melihat dari pengalaman-pengalaman orang tua yang dulu juga pernah mengalami ospek, haha, ya bisa ditanya sendiri lah seperti apa kira-kira pengalaman mereka. Nah, jadi kayaknya sekarang ini kita lebih enak memakai istilah inisiasi, lebih enak didengar juga kayaknya.
Kegiatan-kegiatan inisiasi di FISIP UI dilaksanakan hampir oleh semua departemen, kenapa gw bilang hampir? Karena setau gw dari delapan departemen (bukan jurusan loh ya, kalo jurusan ada lebih dari delapan) di FISIP, Departemen Ilmu Politik tidak mengadakan kegiatan-kegiatan inisiasi sejak beberapa tahun yang lalu (gw kurang tau persisnya sejak kapan). Puncak acara inisiasi di FISIP disebut dengan SARASEHAN atau biasa disingkat SAR. Nah, kalo ada puncak acara berarti ada acara-acara sebelumnya dong? Ya, itu benar. Ada acara-acara sebelum SAR yang sebetulnya masih proses inisiasi juga, yang disebut sebagai Pra-SAR. Lamanya kegitan Pra-SAR tergantung dari masing-masing jurusan, atau mungkin lebih tepatnya tergantung jadwal kegiatan yang udah diatur oleh masing-masing Himpunan Mahasiswa (HM) tiap jurusan.
Setelah Pra-SAR kemudian diadakan SAR atau acara puncak dari rangkaian acara inisiasi selama beberapa bulan. Setelah SAR apakah ada acara lagi? Ternyata masih ada lagi. Acara ini lah yang disebut sebagai Malam Balas Jasa (MBJ). Nah, sekarang bagi yang membaca tulisan gw ini, gw pengen tau deh, anggap kalian sebagai orang yang baru pertama kali mendengar istilah MBJ, apa yang muncul di benak kalian? Kalo gw pribadi, ketika pertama kali gw mendengar istilah MBJ, gw malah bingung. Loh kenapa bingung? Ya jelas aja bingung, emang kita membalas jasa kepada siapa dan karena apa?
Ternyata ya… sebetulnya inti dari MBJ itu sama dengan Malam Keakraban (Makrab) cuma beda nama, tapi tetap menurut gw, punya makna yang berbeda. Dan memang, ada beberapa hal yang jadi pertanyaan gw. Pertama, kenapa sih namanya “Malam Balas Jasa” bukannya “Malam Keakraban” aja? Toh emang inti dari acara tersebut adalah malam bersenang-senang dan saling mengakrabkan antarangkatan. Kemudian, pertanyaan berikutnya, apakah junior (mahasiswa baru) benar-benar harus “membalas jasa” kepada para kakak-kakak senior? Maaf nih, bukan karena gw adalah salah satu yang ngga ikut SAR (dan juga Pra-SAR) sehingga bisa ngomong kayak gini, seandainya gw ikut pun, gw pasti akan mempertanyakan hal ini. Ya, kalo dipikir-pikir secara akal sehat, gw rasa agak terlalu berlebihan untuk membuat suata acara “balas jasa”, toh pada akhirnya banyak dari acara-acara MBJ tersebut yang berakhir dengan hura-hura sampai tengah malam, dan maka dari itu gw ngga melihat sesuatu yang nyambung antara “balas jasa” dengan bersenang-senang, bukankah lebih cocok dengan kata “keakraban”?
Kemudian, gw rasa agak lucu aja dengan acara “Malam Balas Jasa” ini, ya, gw tentu mengungkapkan ini tanpa ada maksud menghina bahkan merendahkan mereka yang membuat acara MBJ ini, ngga gitu kok, justru gw sangat salut dengan mereka yang berusaha keras mati-matian demi terciptanya acara MBJ tersebut. Kembali lagi, gw rasa judul acara MBJ agak lucu. Kenapa? Ya… lucu aja. Menggambarkan sebuah loyalitas yang luar biasa dari mahasiswa-mahasiswa baru (junior) kepada kakak-kakak seniornya setelah menginisiasi, sampai membuat acara Malam Balas Jasa. Bayangkan, balas jasa. Wah, gw mendengarnya aja merinding. Salut lah gw, ya terlepas dari kata-kata “Malam Balas Jasa” ini merupakan sebuah tradisi, tapi ya… duh, katanya mahasiswa sebagai agen perubahan, haha, ya lucu aja kan. Bahkan kita ngga pernah membuat “Malam Balas Jasa” untuk para pahlawan yang telah berjuang mati-matian dengan tumpah darahnya demi memerdekakan negeri ini. Oh oke, mungkin itu terlalu muluk-muluk kali ya? Ya, rasa nasionalisme kita udah luntur dan itu ngga bisa dipungkiri. Oke, gw ganti, bahkan kita ngga pernah membuat “Malam Balas Jasa” untuk para pemimpin bangsa ini, para pemimpin yang berusaha menyatukan negeri ini dari kehancuran! Haha, yah! Ngapain? Kerjanya cuma bisa korupsi kan? Begitukah?
Atau mungkin, bahkan kita ngga pernah membuat “Malam Balas Jasa” untuk guru-guru kita, orang-orang yang telah membuat kita pintar, dari SD sampai SMA (mungkin juga dari TK) bahkan kita bisa diterima dan melanjutkan pendidikan di UI seperti sekarang ini pun tidak terlepas dari peran para guru, mulai dari guru SMA, guru Bimbel, guru Privat, dsb. Wah, tapi ternyata susah juga, kan katanya guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, jadi ya… ngga perlu lah bikin malam balas jasa untuk guru. Begitukah?
Ya, oke oke, gimana kalau, bahkan kita ngga pernah membuat “Malam Balas Jasa” untuk orangtua kita, karena merekalah kita bisa lahir di dunia ini, jasa-jasa mereka tentu ngga akan pernah bisa terbalas semua, doa-doa mereka yang selalu mereka lantunkan dalam setiap ibadahnya, semua untuk anak-anaknya. Apalagi jasa seorang ibu. Ibu yang sudah melahirkan kita. Wah! Ternyata masih sangat sulit! Lah, kan lagunya, “Kasih ibu, kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali...” nah, itu dia, ibu tidak pernah mengharapkan balas jasa dari anak-anaknya, ibu itu tulus. Ya udah kalo gitu kita balas jasa sama siapa dong? Nah, yang gampang ya… ke kakak-kakak senior aja lah, sekalian kan bisa jadi tambah akrab juga. Keakraban antarangkatan itu penting loh! Jadi MBJ ini sangat penting untuk bisa dilaksanakan demi terbangunnya suatu citra positif dari kakak-kakak senior terhadap angkatan kita. Jadi, kalo ngga bikin MBJ, yah… nanti akan ada citra yang kurang baik dari kakak-kakak senior. Jadi bahan omongan kakak-kakak senior. Jadi, sebaiknya kita bikin, toh ngga ada ruginya juga.
Begitukah? Ya, mahasiswa FISIP UI angkatan 2008, hanya kalian yang bisa menjawabnya.
Ya, itulah yang terjadi pada mahasiswa FISIP sekarang ini. Ini sebuah kenyataan yang memang benar-benar terjadi. Status sebagai agen perubahan tampaknya memang belum sama sekali melekat dalam diri mahasiswa. Seandainya memang ada orang-orang yang mempunyai pemikiran untuk mengubah tradisi ini (dan gw yakin itu ada), tapi sayangnya orang-orang tersebut tidak benar-benar mengungkapkannya. Buat gw, acara seperti ini, ya… ngga masalah, tapi gw cuma ngga setuju dengan namanya, yaitu Malam Balas Jasa, entah apakah kami sebagai junior sebegitu berutang budinyakah kepada kakak-kakak senior sehingga harus membalas jasa-jasa kakak-kakak selama ini? Ya, jujur, buat gw, itu agak berlebihan. Gw lebih setuju kalo acara tersebut dinamakan Malam Keakraban, karena sebetulnya memang itu kan intinya?
Dan, sekalipun gw lebih setuju dengan nama Malam Keakraban daripada Malam Balas Jasa, tentu kita juga harus melihat, perlu atau tidaknya acara-acara tersebut dan bagaimana kita mengemas acara tersebut. Beberapa MBJ yang sudah dan akan dilaksanakan, memang lebih menonjolkan hura-hura dan senang-senang. Apakah itu salah? Wah, ngga lah, itu hak setiap orang untuk berpesta bersama. Tapi, apakah tepat? Sesuatu yang benar belum tentu tepat kan? (sesuatu yang tepat sudah pasti benar) Ya, gw sama sekali ngga melarang mereka yang membuat konsep seperti itu (ya apa hak gw untuk melarang? haha), dan gw sama sekali ngga ada perasaan ngga suka terhadap konsep acara yang seperti itu, gw hanya ingin untuk angkatan 2008 bisa lebih berpikir jauh ke depan, apakah suatu acara perlu atau tidak, benar atau tidak, dan tepat atau tidak. Itulah yang harus kita pikirkan.
Sekarang ini kalau kita lihat, Indonesia, khususnya Jakarta sudah memasuki era globalisasi, mereka yang kaya semakin kaya, yang susah, ya… kalo ngga kerja keras dan berusaha tentu akan semakin susah (di Indonesia lebih banyak yang susah), namun tidak menjamin juga bagi yang bekerja keras akan mudah jalan hidupnya. Sekarang pertanyaannya, tepatkan kita sebagai mahasiswa (mahasiswa UI, kampus perjuangan, kampus rakyat) mengadakan acara-acara pesta, senang-senang, mengeluarkan uang sangat banyak (kalo sekarang istilahnya, hedon – dari kata hedonisme), sementara di luar sana, bahkan sebenarnya ngga di luar banget, di dekat kita, di sekitar kita, masih banyak orang yang ya… untuk makan sekali sehari aja susah, gimana untuk bersenang-senang? Mungkin ngga akan bisa… Tentu jawabannya kembali pada diri kita masing-masing, kalau ada yang menjawab masih tepat dan boleh aja, ya ngga apa-apa, itu hak kalian, kita semua punya hak untuk bersenang-senang dan mengakrabkan diri satu sama lain, dan itu benar, gw ngga menyalahkan itu. Bagi yang menjawab tepat tapi tetap ada batasannya, ya, kalau begitu buatlah batasan-batasan yang jelas. Bagi yang menjawab tidak tepat, tentu janganlah menjadi orang-orang yang apatis dan ngga suka dengan segala hal yang berbau kesenangan, yang benar adalah, pikirkan cara lain yang lebih baik, pikirkan suatu acara yang juga bertemakan keakraban tanpa harus berfoya-foya atau mengeluarkan dana yang besar. Ya, terlepas dari (gw yakin) sebagian besar anak-anak FISIP adalah anak-anak yang mampu, ya, minimal masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya, tapi bukankah alangkah lebih baik jika dari sekarang kita belajar menjadi orang-orang yang bisa menempatkan dan mengendalikan diri, khususnya untuk masalah hura-hura, senang-senang, foya-foya, dan sebagainya. Sekali lagi, bukan tidak boleh, tapi tepatkah? Ya, jawabannya kembali kepada diri kita masing-masing. Semoga kita, mahasiswa FISIP, bisa menjadi para agen perubahan, minimal perubahan kecil dari diri kita sendiri, karena dari perubahan kecil dari diri kita inilah akan tercipta suatu perubahan besar.
Untuk angkatan 2008, BANGKIT INDONESIA!
Setelah kemarin gw menulis tentang keunggulan dan kelemahan peserta IPS, tadinya kali ini gw akan membahas mengenai keunggulan dan kelemahan peserta IPA, tapi setelah gw pikir-pikir, mungkin gw kali ini akan lebih membahas tentang kekuatan IPA dan IPS namun tetap menghubungkannya dengan keunggulan dan kelemahan peserta IPA. Ingat, yang gw tulis adalah peserta IPA, bukan siswa jurusan IPA. Kalau peserta berarti bisa dari jurusan IPA atau IPC. Walaupun hampir sebagian besar peserta IPA terdiri dari anak-anak jurusan IPA, gw tetap lebih memilih untuk menggunakan kata peserta daripada kata jurusan, karena sekarang ini yang bisa menjadi peserta IPA bukan hanya mereka yang dari jurusan IPA, melainkan juga mereka yang berasal dari jurusan IPS. Nah, tapi untuk yang berasal dari jurusan IPS sendiri, menurut apa yang gw lihat selama ini, ngga ada anak IPS yang mendaftar sebagai peserta IPA secara murni, jadi bener-bener ujiannya IPA doang, kayaknya sih ngga ada. Anak IPS yang mau milih jurusan IPA biasanya mendaftar menjadi peserta IPC karena itu jauh lebih aman dan dalam ujian IPC, ujiannya menggabungkan antara ujian IPA dan IPS, selain itu pilihan jurusan yang boleh dipilih dalam IPC boleh sebanyak tiga pilihan (2 pilihan IPA dan 1 pilihan IPS, atau sebaliknya).
Apa yang gw tulis di bawah ini merupakan hasil pengamatan gw terhadap anak-anak IPA pada umumnya. Jadi, gw mengeneralisasikannya ke dalam sebuah kesimpulan. Bagi yang membaca tentu boleh setuju atau tidak setuju. Namun, secara umum, kira-kira seperti itulah peserta IPA (khususnya anak IPA). Nah, tapi berhubung karena gw bukanlah anak IPA, gw dari IPS, jadi kehidupan gw dulu bukan berada di lingkungan IPA, melainkan IPS, makanya gw di sini ngga membahas baik keunggulan maupun kelemahan peserta IPA sebanyak apa yang udah gw tulis di artikel sebelumnya mengenai keunggulan dan kelemahan peserta IPS.
Oke, pertama, secara umum kita harus tahu bahwa persaingan memperebutkan kursi jurusan-jurusan IPA jauh lebih ketat dibandingkan dengan persaingan memperebutkan kursi jurusan-jurusan IPS. Kita tahu bahwa ada ribuan orang yang ingin melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran, ada ribuan orang yang ingin melanjutkan studinya di berbagai jurusan di Fakultas Teknik, dan sekarang ini satu fakultas yang (istilahnya) lagi naik daun adalah Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) yang di dalamnya ada jurusan Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi, juga diperebutkan oleh banyak orang. Tentunya belajar dengan giat dan tekun tidaklah cukup untuk bisa memastikan bahwa kita mendapatkan satu buah kursi di fakultas/jurusan yang kita inginkan. Harus ada taktik dan strategi yang matang juga untuk menunjang keberhasilan kita. Serta berbagai motivasi dan dorongan baik dari dalam maupun luar diri.
Oh ya, tadi gw bilang bahwa persaingan memperebutkan kursi jurusan-jurusan IPA jauh lebih ketat dibandingkan dengan persaingan memperebutkan kursi jurusan-jurusan IPS. Kenapa? Alasannya adalah karena tingkat kemampuan anak-anak IPA biasanya ngga begitu jauh antara yang satu dengan yang lain. Emang sih pasti ada yang under dan ada yang super, tapi secara umum, kemampuan anak-anak IPA dalam ujian-ujian seleksi masuk PTN antara satu sama lain biasanya ngga begitu jauh, jadi rata-rata. Mereka pada umumnya punya kelemahan yang sama di bidang Fisika dan Matematika IPA, walaupun ngga semua, tapi sekali lagi gw tekankan di sini adalah pada umumnya. Mereka pun pada umumnya punya kekuatan yang sama di bidang Biologi dan Kimia, sedangkan untuk IPA Terpadu biasanya 50:50 (fifty fifty). Nah, sedangkan persaingan memperebutkan kursi jurusan-jurusan IPS ngga seketat persaingan memperebutkan kursi jurusan-jurusan IPA karena tingkat kemampuan anak-anak IPS beragam, banyak dari mereka yang emang super, banyak yang rata-rata, tapi ngga sedikit juga yang under. Untuk anak IPS, jelas bahwa satu kelemahan mereka yang paling parah adalah di Matematika Dasar, tapi selebihnya? Bermacam-macam. Ada yang jago di Ekonomi dan Geografi, tapi sedikit lemah di Sejarah, ada juga yang jago di Geografi dan Sejarah, tapi agak lemah di Ekonomi, dsb, sedangkan untuk IPS Terpadu biasanya sama seperti kelomok IPA juga, 50:50 (fifty fifty). Jadi kelemahan anak IPS di Kemampuan IPS tidak sama, sedangkan kelemahan anak IPA di Kemampuan IPA rata-rata sama, yaitu Fisika dan setelah itu biasanya Matematika IPA, dan tempat mereka berjuang biasanya di bidang yang sama juga, yaitu Biologi dan Kimia. Nah, hal inilah yang membuat persaingan menjadi sangat ketat.
Ada ribuan orang yang memperebutkan jatah kursi yang terbatas dengan kelemahan dan kekuatan yang hampir sama, sedangkan ketika anak IPS bertempur, mereka semua bersaing memperebutkan jatah kursi yang terbatas dengan kelemahan dan kekuatan yang beragam. Selain itu, karena IPA merupakan pelajaran ilmu pasti, jadi kalau jawabannya A udah pasti A, kalau rumus X untuk menghasilkan Y adalah Z berarti rumus X-lah yang harus digunakan, sedangkan IPS merupakan pelajaran ilmu sosial, bukan berarti ilmu yang penuh dengan ketidakpastian, tapi IPS lebih merupakan ilmu yang di dalamnya menggunakan interpretasi dan hafalan (itu kalo menurut gw). Nah, ketika anak IPA menemukan soal seperti: 4x2 + 9x + a2 > 9 maka itu sudah pasti tentang sistem pertidaksamaan dan itu berarti untuk menyelesaikan soal tersebut dia harus paham mengenai sistem pertidaksamaan, nantinya jawabannya pun sudah pasti. Sebagai anak IPA pasti bisa menjawab soal seperti itu (pastinya kalau soalnya lebih jelas, karena yang gw tulis di situ cuma sepotong aja, jadi lebih menegaskan bahwa itu pasti tentang sistem pertidaksamaan).
Bandingkan dengan IPS, misalnya dalam pilihan ganda ada soal: Apakah yang menyebabkan terjadinya politik etis di Indonesia pada masa penjajahan Belanda? Nah, pilihan jawaban yang disediakan ada lima butir (a, b, c, d, dan e) dan tentu jawabannya hanya ada satu (kalau ngga a, b, c, d, ya e, gitu kan?), tapi masalahnya hampir rata-rata tipe-tipe soal yang menanyakan sebab, akibat, alasan, dsb. itu memiliki pilihan-pilihan jawaban yang kalau dilihat sekilas hampir-hampir mirip satu sama lain (jadi emang butuh ketelitian). Di sinilah interpretasi tiap anak IPS dalam menjawab soal berbeda-beda. Padahal soal tersebut termasuk soal yang mudah, lagipula pasti sudah dipelajari selama di SMA, dan pasti diulang kembali di bimbel-bimbel. Jadi dalam satu soal IPS, jawaban seluruh peserta IPS dari Sabang sampai Merauke bisa sangat beraneka ragam (bisa a, b, c, d, atau e), tergantung bagaimana mereka menginterpretasikan soal tersebut walaupun pastinya ada salah satu jawaban yang benar, tapi jawaban bisa menjadi sangat beragam.
Kembali ke soal IPA, satu lagi contoh: Nilai minimum dari Z = 3x + 6y yang memenuhi syarat 4x + y ≥ 20; x + y ≤ 20; x + y ≥ 10; x ≥ 0; y ≥ 0 adalah? Dari contoh soal tersebut tentu dapat dipastikan bahwa itu adalah soal tentang Program Linear. Untuk menyelesaikannya tentu dengan menggambar grafik, lalu mencari daerah yang dimaksud dengan mengarsirnya, nah biasanya begitu. Karena ini (sebenarnya) termasuk kategori soal yang mudah, pasti jawaban yang didapat dari soal tersebut dari Sabang sampai Merauke sama semua. Dari kelima pilihan jawaban yang disediakan: (misalnya) a.20, b.30, c.40, d.50, dan e.60, tentu dengan cara yang sama akan didapat jawaban yang sama pula, yaitu d.50.
Nah, di sini kita melihat bahwa ketika anak IPA mengerjakan soal-soal IPA bisa terjadi dua kemungkinan, pertama jika soal tesebut mudah, maka semua anak IPA pasti bisa mengerjakan soal tersebut dan jawabannya pasti sama. Kedua, jika soal tesebut susah, maka hampir semua anak IPA kesulitan mengerjakan soal tersebut dan jawabannya pasti tidak akan sama. Bagaimana dengan IPS? Ketika anak IPS mengerjakan soal-soal IPS bisa terjadi banyak kemungkinan: jika soal tersebut mudah, maka semua anak IPS pasti bisa mengerjakan soal tersebut, tapi jawabannya belum tentu sama atau benar antara satu sama lain. Ini disebabkan oleh perbedaan interpretasi tiap anak berbeda dalam menganalisis soal. Sementara itu, jika soal tesebut susah, maka hampir semua anak IPS kesulitan mengerjakan soal tersebut.
Pada akhirnya, nilai akhir yang didapat oleh anak-anak IPA biasanya tidak berbeda jauh antara satu sama lain, ngga ada yang terlalu tinggi dan ngga ada yang terlalu rendah, range nilai mereka sangat ketat, bahkan bisa hanya berbeda nol koma sekian, sedangkan nilai akhir yang didapat oleh anak-anak IPS biasanya sangat beragam, dalam satu jurusan, orang-orang yang diterima di dalamnya ada yang memiliki nilai paling tinggi dan ada juga yang paling rendah, jadi ada sebuah range/jarak nilai antara yang tertinggi dan terendah yang cukup terlihat.
Jadi, kalau berdasarkan apa yang gw perhatikan selama ini, kira-kira seperti itulah gambaran umum tentang perbandingan kekuatan IPA dan IPS ketika menghadapi ujian-ujian seleksi masuk PTN. Keunggulan anak-anak IPA rata-rata sama, mereka punya kemauan keras, motivasi yang kuat, lebih tekun, dan teliti. Kenapa mereka bisa seperti itu? Ya, kalau menurut gw ada banyak faktor, seperti anggapan bahwa pelajaran IPA itu sulit (terutama Fisika, kayaknya itu salah satu hal yang melandasi pernyataan bahwa IPA itu sulit), peminat jurusan IPA di PTN-PTN sangat banyak dan itu berarti persaingannya sangat berat, jadi untuk bisa masuk ke jurusan-jurusan IPA favorit yang diperebutkan oleh banyak orang, tentu sangat dibutuhkan sifat-sifat yang mendukung agar bisa lulus PTN, ya seperti itu tadi, sifat rajin, tekun, dan teliti, itulah yang biasanya menjadi sifat dasar anak-anak IPA, bukan berarti anak IPS ngga begitu, tapi sifat rajin, tekun, dan telitinya anak IPS agak berbeda dengan anak-anak IPA (hehe). Selain itu masih ada faktor-faktor lain yang membentuk kepribadian anak-anak IPA pada umumnya, tapi tentunya gw ngga akan menjelaskan semuanya.
Sementara untuk kelemahan anak-anak IPA, seperti yang udah gw jelaskan di atas juga, gw rasa kelemahan mereka lebih kepada pelajaran-pelajaran yang sangat kurang diminati, terutama Fisika. Ah, tapi toh biar begitu juga, tetap ada yang memilih jurusan Fisika dan Matematika di perguruan tinggi, itu kan berarti menandakan bahwa tidak semua anak IPA menganggap Fisika itu menakutkan, ya walaupun mungkin hanya segelintir orang yang berpikir bahwa Fisika itu menyenangkan (dan gw udah pasti bukan salah satunya), tapi gw rasa itu mengindikasikan bahwa sesulit apapun pelajaran itu, dalam hal ini gw menekankan pada Fisika, kalian sudah mempelajarinya selama tiga tahun di SMA (bahkan sejak SMP udah dikenalkan dengan si Fisika), berarti sebenarnya kalian udah tau banget deh tentang si Fisika ini, dan seharusnya ngga perlu takut atau bahkan stress gara-gara Fisika, ya mungkin kalau kalian berpikir mudah bagi gw yang cuma ngomong yang ngga merasakan Fisika, gw ngga akan menyangkal hal itu, tapi menurut gw setiap permasalahan pasti ada pemecahannya, dan pemecahannya itu bisa kalian dapatkan sendiri, dari dari kalian sendiri. Jadi, jangan takut dengan apa yang kalian pikir ngga bisa menghadapinya, kalau kalian bener-bener mikir ngga bisa maka akan semakin ngga bisalah kalian, tapi kalau kalian memulainya dengan suatu pikiran positif, gw yakin pasti kalian bisa menghadapinya, masalah ternyata bisa apa ngga, itu masalah belakangan, tapi yang penting kalian ngga kalah sebelum perang.
Dulu kalian yang memilih IPA (ya mungkin bagi sebagian orang, IPA adalah pilihan orangtuanya), berarti kalian harus bertanggung jawab dengan pilihan kalian ini, dan buktikan status ke-IPA-an kalian dalam SIMAK-UI ini bahwa kalian pun bisa menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Indonesia di Agustus 2009 nanti. Oh ya, satu hal lagi, kalian anak-anak IPA yang mengambil jurusan IPA di perguruan tinggi berarti kalian telah konsisten dengan pilihan kalian, IPA. Berarti emang ngga salah kalian memilih IPA sebagai jurusan kalian di SMA, dan tanpa bermaksud menyinggung yang lain, gw rasa kalian boleh bangga dengan kekonsistensian kalian. Buktikan bahwa kalian bisa dan mampu bersaing dengan ribuan anak IPA lainnya yang memilih FK, FT, FKM, FMIPA, FASILKOM, dan fakultas-fakultas jurusan IPA lainnya. Selamat berjuang para pejuang IPA!
Fauzan Al-Rasyid
Kali ini gw akan membahas mengenai keunggulan dan kelemahan peserta-peserta IPS, sedangkan keunggulan dan kelemahan peserta-peserta IPA dan IPC akan gw bahas di posting-an berikutnya. Apa yang gw tulis di bawah ini merupakan hasil pengamatan gw terhadap anak-anak IPS (dan kebetulan gw sendiri juga anak IPS, gw hidup di lingkungan IPS) dan kemudian gw mengeneralisasikannya ke dalam sebuah kesimpulan. Bagi yang membaca tentu boleh setuju atau tidak setuju. Namun, secara umum, kira-kira seperti inilah anak IPS.
A. Tentang Peserta IPS
Pada umumnya peserta IPS (bukan siswa IPS) berasal dari siswa-siswi jurusan IPS ditambah siswa-siswi jurusan IPA. Namun, tentunya sekitar 99% siswa-siswi jurusan IPS pasti memilih melanjutkan ke-IPS-annya di jenjang perguruan tinggi. Kenapa gw bilang 99% bukan 100%? Karena sekarang ini ada jalur IPC yang memungkinkan anak IPS mengambil jurusan IPA di perguruan tinggi. Emang ada? Ada, dan biasanya mereka ngambil jurusan teknik atau kedokteran dan itulah sisanya yang 1%, tapi emang lazimnya anak IPS tetap mengambil jurusan IPS.
Peserta IPS dibagi menjadi tiga golongan, yaitu mereka yang berasal dari jurusan IPS itu sendiri, lalu ditambah mereka yang berasal dari IPA dan mereka yang mengambil IPC. Masing-masing dari mereka memiliki karakter tersendiri, serta keunggulan dan kelemahan masing-masing. Sekarang mari kita bahas satu per satu.
B. Karakter Siswa Jurusan IPS
Ada beberapa karakter umum yang terbentuk dalam pribadi anak-anak IPS, khususnya di saat mau ujian seleksi masuk PTN seperti SIMAK-UI ini. Ingat, ini hanya sebuah generalisai. Apa saja?
1. Anak IPS punya pola pikir santai, sehingga kadang suka telat sadar kalau ujian ternyata semakin dekat. Lebih seperti mesin diesel, lama panasnya, tapi kalau udah “panas” mereka juga bisa serius dan sungguh-sungguh.
2. Anak IPS kurang memiliki jiwa yang kompeten, selalu ngga suka bahkan kadang khawatir dengan anak-anak IPA yang mengambil jurusan IPS.
3. Daya juang anak IPS dalam menghadapi persoalan-persoalan sulit, dalam hal ini adalah ujian seleksi masuk PTN (SIMAK-UI), tidak sebesar anak IPA.
4. Anak IPS mudah putus asa dan goyah dalam mengerjakan soal-soal.
5. Anak IPS kurang mendayagunakan logikanya dalam mengerjakan soal-soal.
C. Karakter Siswa Jurusan IPA yang Mengambil IPS
Ada beberapa karakter umum yang terbentuk dalam pribadi anak-anak IPA yang memilih jurusan IPS pada saat ujian seleksi masuk PTN seperti SIMAK-UI ini. Ingat, sekali lagi ini hanya sebuah generalisai. Apa saja?
1. Anak IPA punya kemauan dan motivasi yang kuat untuk bisa menguasai materi-materi IPS dalam waktu singkat, dan tidak mudah putus asa.
2. Anak IPA punya daya juang tinggi untuk bisa survive dalam ujian karena dia adalah seorang IPA, tapi kemudian dia “berpindah haluan” menjadi IPS, maka itu berarti dia harus bertanggung jawab dengan pilahannya.
3. Anak IPA lebih memiliki jiwa yang kompeten untuk bersaing dengan anak-anak IPS yang sudah selama tiga tahun belajar IPS.
4. Anak IPA lebih banyak mengandalkan logika dalam menjawab soal-soal.
5. Anak IPA biasanya mengandalkan nilai yang akan dia dapat di tes Kemampuan Dasar untuk mengalahkan anak-anak IPS.
D. Karakter Siswa Jurusan IPA yang Mengambil IPC
Ada beberapa karakter umum yang terbentuk dalam pribadi anak-anak IPA yang memilih jurusan IPC pada saat ujian seleksi masuk PTN seperti SIMAK-UI ini. Ingat, sekali lagi ini hanya sebuah generalisai. Apa saja?
1. Anak IPA yang memilih IPC seringkali masih ragu dengan pilihannya.
2. Anak IPC berusaha lebih menguasai materi di jurusan mana yang paling banyak dia pilih. Jika dia memilih 1 jurusan IPA dan 2 jurusan IPS, maka dia akan lebih fokus di IPS, sedangkan bila dia memilih 2 jurusan IPA dan 1 jurusan IPS maka dia akan lebih fokus di IPA.
3. Rata-rata, mereka yang merasa kemampuan IPA-nya agak kurang akan memilih 1 jurusan IPA dan 2 jurusan IPS, mereka tetap memilih IPA karena memang senang dengan IPA, tapi tidak mau terlalu mengambil risiko dengan mengambil jurusan IPA saja, maka dia mengambil IPC dan mengimbanginya dengan pilihan IPS.
4. Rata-rata, mereka yang merasa kemampuan IPA-nya cukup baik dan memang senang dengan IPA akan memilih 2 jurusan IPA dan 1 jurusan IPS, mereka tetap mengambil IPS karena memang jurusan itu disukai, atau biasanya ketiga jurusan yang dipilih (2 jurusan IPA dan 1 jurusan IPS) memang yang disukainya (sampe bingung mau milih yang mana).
5. Daya juang anak IPC juga tinggi, karena dalam hal ini mereka juga anak-anak IPA dengan karakter anak-anak IPA.
Oke, itu tadi sekilas mengenai karakter-karakter umum antara anak-anak IPS, IPA yang memilih IPS, dan anak IPA yang memilh IPC. Selanjutnya gw akan mebahas keunggulan, kelemahan, dan kesalahan siswa-siswi yang berasal dari jurusan-jurusan yang berbeda-beda tersebut.
E. Keunggulan, Kelemahan, dan Kesalahan Siswa IPS
E.1. Keunggulan Siswa IPS
Menjadi siswa IPS tentu memberikan banyak keuntungan dalam mengerjakan soal-soal SIMAK-UI, khususnya di tes Kemampuan IPS. Apa saja keunggulannya?
1. Pelajaran IPS bukanlah suatu hal yang baru bagi anak IPS.
2. Sudah tahu banyak mengenai seluk beluk IPS dengan baik.
3. Siswa IPS unggul dalam masalah linguistik (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris).
4. Tes Kemampuan IPS menjadi andalan utama anak-anak IPS.
E.2. Kelemahan Siswa IPS
Siswa IPS tentu juga memiliki berbagai kelemahan dalam mengerjakan soal-soal SIMAK-UI. Apa saja kelemahannya?
1. Anak IPS sangat payah di tes Matematika Dasar. Umumnya dari 25 soal Matematika Dasar, anak IPS hanya bisa menjawab sekitar 8 – 15 soal, bahkan tidak sedikit yang kurang dari itu, dan masalahnya belum tentu semuanya benar (FYI, waktu UMB gw cuma bisa mengerjakan 11 soal Matematika Dasar, dan itu pun kalo ngga salah ada 2 atau 3 soal yang ngasal).
2. Tidak teliti menjadi salah satu kelemahan anak IPS.
3. Mudah menyerah, apalagi kalau udah tambah stress.
4. Kesulitan kedua setelah Matematika Dasar untuk anak IPS biasanya adalah Ekonomi. Kesulitan ketiga biasanya di IPS Terpadu, khususnya yang bagian hitung-menghitung (perihal matematika lagi).
5. Tipe soal yang agak sulit dan membingungkan bagi anak IPS adalah tipe soal sebab-akibat.
E.3. Kesalahan Siswa IPS
Ada beberapa kesalahan umum yang dilakukan oleh anak IPS dan kebanyakan dari mereka tidak menyadari hal itu. Justru kesalahan-kesalahan ini bila kita sudah tahu dari awal, kita bisa menghindarinya agar tidak jatuh dalam kesalahan-kesalah ini. Apa saja kesalahan-kesalahan tsb.?
1. Karena pelajaran yang paling tidak dikuasai oleh anak IPS adalah Matematika, maka hampir sebagian besar anak IPS menghabiskan waktunya untuk belajar dan terus belajar Matematika. Kesalahan #1, terlalu fokus di Matematika sehingga pelajaran lain pun akhirnya terbengkalai.
2. Karena terus belajar Matematika dan hasil dari berbagai latihan dan Try Out tidak menunjukkan perubahan yang signifikan dari kemampuan Matematikanya, anak IPS terus dan terus belajar Matematika sampai akhirnya dia pusing dengan Matematika sehingga untuk belajar yang lain pun udah “keruh”, buyar, dan ngga semangat. Kesalahan #2, Matematika tidak dapat dikuasi, pelajaran yang lain pun terlantar.
3. Ketika mengerjakan soal-soal Matematika Dasar, banyak anak IPS yang terpaku pada pelajaran tersebut, bahkan tidak sedikit yang terpaku pada satu soal saja. Kesalahan #3, membuang-buang waktu di Matematika Dasar = bencana!
4. Banyak anak IPS yang mengerjakan tes Kemampuan Dasar dari depan/awal (Matematika Dasar), bukan suatu hal yang salah, tapi akan menjadi suatu kesalahan kalau kalian memang lemah di Matematika Dasar. Kesalahan #4, mengerjakan Matematika Dasar terlebih dahulu bagi yang lemah di Matematika adalah sebuah kesalahan. Kerjakan dari sesi bahasa terlebih dulu.
5. Ada juga anak IPS yang tidak mengikuti kesalahan nomor 4, tapi membuat kesalahan lain. Dia mulai dari Bahasa Inggris, tapi dia mengerjakan benar-benar dari awal, dari wacana/reading section. Kesalahan #5, mengerjakan reading section terlebih dahulu di Bahasa Inggris sangat tidak disarankan. Bukan suatu hal yang masalah kalau kalian merasa master dalam mengerjakan soal-soal reading, tapi sebaiknya kerjakan dari belakang, yaitu bagian structure/grammar, itu lebih baik.
6. Soal-soal IPS Terpadu banyak yang membahas mengenai seputar pengetahuan umum. Kesalahan #6, anak IPS kurang banyak membaca dan mengikuti perkembangan berita-berita terkini atau masalah pengetahuan-pengetahuan umum. Jadi, sebelum ujian SIMAK-UI banyak-banyaklah membaca.
F. Keunggulan, Kelemahan, dan Kesalahan Siswa IPA yang Memilih IPS
F.1. Keunggulan Siswa IPA yang Memilih IPS
Menjadi siswa IPA yang memilih jurusan IPS tentu juga memberikan banyak keuntungan dalam mengerjakan soal-soal SIMAK-UI, khususnya di tes Kemampuan Dasar. Apa saja keunggulannya?
1. Kekuatan utama anak IPA ada di tes Kemampuan Dasar, khususnya pelajaran Matematika Dasar.
2. Kehidupan yang “keras” di IPA membuat anak IPA siap berkompetisi dengan anak-anak IPS.
3. Perpaduan antara logika dan analisis anak IPA menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka.
4. Menghafal materi-materi IPS bukan menjadi hambatan karena mereka terbiasa menghafal berbagai macam rumus IPA yang jauh lebih rumit dan tidak sekedar dihafal.
5. Memiliki kemauan dan motivasi yang sangat kuat, serta lebih teliti dalam mengerjakan soal-soal.
F.2. Kelemahan Siswa IPA yang Memilih IPS
Selain keunggulan, menjadi siswa IPA yang memilih jurusan IPS tentu juga punya kelemahan. Apa saja kelemahannya?
1. Pada tes Kemampuan Dasar, biasanya anak IPA yang memilih jurusan IPS lemah di salah satu pelajaran bahasa, bisa Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, tapi jarang yang dikedua bahasa tersebut lemah.
2. Pelajaran IPS yang kurang dikuasai biasanya Ekonomi dan Sejarah. Untuk Ekonomi biasanya anak IPA kurang menguasai masalah kurva-kurva, sedangkan untuk Sejarah, anak IPA biasanya kurang menguasai masalah sejarah dunia (kuno dan modern).
3. Kemampuan untuk mencerna soal-soal Kemampuan IPS yang lebih banyak membutuhkan kemampuan lingual (bahasa) sering menjadi sedikit hambatan bagi anak IPA.
4. Karena dalam mempelajari IPS harus “ngebut” maka tidak semua materi IPS benar-benar dikuasai secara penuh oleh anak IPA.
F.3. Kesalahan Siswa IPA yang Memilih IPS
Ada beberapa kesalahan umum yang dilakukan oleh anak IPA yang memilih IPS dan kebanyakan dari mereka tidak menyadari hal itu. Justru kesalahan-kesalahan ini bila kita sudah tahu dari awal, kita bisa menghindarinya agar tidak jatuh dalam kesalahan-kesalah ini. Apa saja kesalahan-kesalahan tsb.?
1. Karena mau masuk jurusan Akuntansi, berarti ketika belajar Ekonomi sangat penting juga untuk belajar Akuntansi. Kesalahan #1, mendalami Akuntansi untuk ujian-ujian seleksi masuk PTN, atau dalam hal ini adalah SIMAK-UI, jangan dijadikan prioritas, cukup dasar-dasarnya saja (sekalipun mau masuk jurusan Akuntansi UI). Justru perdalam materi Ekonominya, bukan Akuntansi. Soal-soal Akuntansi dalam ujian-ujian seleksi masuk PTN biasanya hanya berkisar antara 2 – 3 soal saja.
2. Pelajaran IPS jauh lebih mudah daripada pelajaran IPA. Kesalahan #2, menganggap remeh merupakan sebuah awal kehancuran. Jangan pernah menganggap remeh pelajaran apapun, walau mungkin faktanya berkata demikian, tapi jangan pernah melihat sebelah mata pelajaran IPS.
3. Banyak anak IPA yang diterima di jurusan-jurusan favorit IPS, khususnya di jurusan-jurusan Ekonomi, berarti akan sangat mudah melawan anak IPS. Kesalahan #3, jangan pernah menganggap remeh lawan (anak-anak IPS), jangan menimbulkan kesombongan dalam hati.
4. Sama seperti kelompok IPS, mulai mengerjakan Bahasa Inggris dari wacana/reading section. Kesalahan #4, mengerjakan reading section terlebih dahulu di Bahasa Inggris sangat tidak disarankan. Bukan suatu hal yang masalah kalau kalian merasa master dalam mengerjakan soal-soal reading, tapi sebaiknya kerjakan dari belakang, yaitu bagian structure/grammar, itu lebih baik.
Nah, itu semua merupakan hasil analisis gw terhadap kelompok IPS dan IPA yang memilih IPS. Gw ngga memasukkan keunggulan, kelemahan, dan kesalahan pada kelompok IPC karena pada dasarnya mereka adalah anak-anak IPA juga, jadi sifat-sifat bawaannya adalah sifat IPA, cuma mungkin karena namanya juga Ilmu Pengetahuan Campuran, jadi gw rasa baik dalam keunggulan dan kelemahan, ada sedikit campuran/perpaduan anatara IPA dan IPS dalam diri anak-anak IPC, terutama tekanan di kelompok IPC cukup besar, stress bukan menjadi hal yang mustahil, maka ketika anak-anak IPC menjadi stress, bukan hal yang tidak mungkin sifat mereka cenderung menjadi sifat anak-anak IPS yang kurang baik, seperti jadi kurang teliti dan yang paling buruk bisa jadi mudah putus asa. Semua itu juga saling terkait antara kondisi mental dan keadaan pada saat ujian.
Namun, tentunya hal-hal negatif yang menjadi kelemahan dan berbagai kesalahan tersebut bisa dihindari. Ketika kita mengetahi pengetahuan umum tentang kelemahan diri sendiri dan orang lain (lawan kita) maka kita bisa menyiapkan diri dengan lebih baik. Sementara untuk kesalahan-kesalahan yang telah gw jabarkan di atas, itu merupakan bentuk kesalahan umum yang sering kali terjadi, dan kebanyakan bersifat teknis. Artinya, ketika kita sudah tahu kesalahan-kesalahan apa saja yang biasa terjadi pada suatu kelompok tertentu maka kita harus berusaha sebaik mungkin untuk tidak jatuh lubang kesalahan yang banyak orang telah jatuh ke dalamnya. Sementara itu, dengan mengetahui keunggulan diri sendiri dan lawan, kita bisa kembali menyusun strategi untuk memenangkan pertempuran ini. Kita sudah tahu apa saja keunggulan kita, kelemahan kita dan kesalahan-kesalahan apa yang sangat fatal, dengan begitu berarti kita bisa meningkatkan rasa kepercayaan diri kita dengan keunggulan-keunggulan tersebut, dan meminimalisasikan berbagai kelemahan yang ada, serta sebisa mungkin menghindari kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi.
Oke, sekian untuk posting-an blog gw kali ini tentang keunggulan dan kelemahan peserta IPS dalam ujian seleksi masuk PTN. Di posting-an berikutnya gw akan membahas hal yang sama tapi untuk peserta IPA. Bye!
Fauzan Al-Rasyid
1. Baik peserta IPA, IPS, maupun IPC, hukumnya WAJIB bangun pagi. Walaupun peserta IPS baru mulai ujian jam 10.30 (Ujian Kemampuan Dasar), tapi karena ini adalah hari penentuan, ngga ada istilah males atau ngantuk. Demi masa depan kalian, kalian harus semangat! Makanya pas di malam hari harus pasang alarm.
2. Baik peserta IPA, IPS, maupun IPC, hukumnya WAJIB sarapan pagi, kalo masalah mandi ya… terserah pribadi masing-masing, walaupun sebenarnya sih ya mandi lah, masa sih sampe males mandi? Tapi kalo sarapan itu harus. Kalian ngga mau kan pas lagi ngerjain soal tiba-tiba perutnya “berdendang” sampe ganggu konsentrasi. Bahkan yang parah bisa sampe pusing dan akhirnya tamat riwayatnya di ujian ini. Jadi, sekalipun bagi kalian yang ngga terbiasa sarapan pagi atau orangtuanya ngga biasa menyediakan sarapan pagi, khusus tanggal 1 Maret 2009 HARUS sarapan sebelum berangkat.
3. Prinsip lebih cepat lebih baik. Maksudnya datang ke tempat ujian kalau bisa udah sampai paling ngga satu jam sebelum ujian berlangsung. Untuk anak IPS juga jangan datang terlalu siang, karena itu sangat berbahaya.
4. Pastikan kalian sudah tau di mana tempat ujian kalian, minta orangtua kalian untuk mengantar kalian ke tempat ujian. Kalau kalian datang dengan kendaraan bermotor, khususnya mobil, sebaiknya datanglah lebih pagi untuk menghindari kemacetan. Ya, kita semua tau bahwa Jakarta selalu macet. Apalagi pada hari itu ada ujian yang sangat penting. Kalian bisa bayangkan berapa banyak orang bermobil di Jakarta yang akan menuju ke berbagai tempat ujian SIMAK-UI. Hal itu pun harus kalian perhitungkan. Dan bagi yang naik kendaraan umum, juga harus datang pagi, karena biasanya hobi supir-supir angkot/metromini di pagi hari adalah ngetem sampe bego (bikin emosi penumpang), sangat membuang waktu. Jadi, kalo kalian berangkat pagi dari rumah, kalian ngga akan merasa khawatir karena kalian tidak akan terlambat.
5. Setelah sampai di tempat ujian, langkah berikutnya adalah segera mecari dan mengecek papan informasi mengenai ruang ujian, biasanya hanya tertulis kode nomor peserta sekian sampai dengan sekian. Baca dengan teliti dan pastikan sekali lagi ruang ujian kalian. Setelah itu, tidak ada salahnya untuk mengecek ruang ujiannya, di lantai berapa dan sebelah mana, sehingga ketika bel berbunyi sebagai tanda masuk ruangan, kalian sudah tidak perlu lagi mencari-cari ruangan tempat kalian ujian.
6. Carilah tempat yang nyaman, atau jika kalian bertemu dengan teman-teman kalian, bergabunglah bersama mereka. Buka kembali “Buku Sakti” kalian, bacalah untuk sedikit mengulang dan mengingat-ingat, selain itu kalian bisa melakukan tanya-jawab satu sama lain. Hal ini terbukti sangat bermafaat. Bahkan kalau kalian ada yang mau menjelaskan sedikit materi yang kira-kira sangat penting kepada teman-teman kalian, itu sangat bagus, karena itu bisa menjadi “pemanasan” sebelum pertempuran dimulai.
7. Tersenyumlah. Tetap optimis. Optimis, bukan sombong. Optimis berarti yakin pada kemampuan diri sendiri. Jangan tegang. Tetap tenang. Faktanya, kalian telah beberapa kali TryOut, yang artinya menghadapi soal-soal seperti ini bukanlah suatu hal yang baru buat kalian. Kalianlah yang menciptakan suasana pada saat itu. Suasana tegang karena kalian berpikir begitu. Suasana bisa tenang dan tanpa tekanan bila kalian menciptakannya begitu.
8. Di menit-menit terakhir menuju ujian, temui orangtua kalian (bagi yang orangtuanya ikut mengantar), mintalah doa dan restu dari mereka. Berkat doa orangtua segala hal bisa terjadi, dan kalian harus yakin. Bagi yang orangtuanya tidak ikut, telepon lah mereka dan lakukan hal yang sama, kalo emang bener-bener lagi kere, ya udah, di-SMS aja, yang penting kita minta doa dari orangtua.
9. Berdoa dari diri sendiri.
10. Katakan dalam diri kalian, dan yakinkan, “UI! AKU DATANG!”
Strategi selama ujian:
1. Begitu memasuki ruang ujian, segera keluarkan segala macam perlengkapan yang telah disiapkan tadi malam, mulai dari alat tulis sampai dengan kartu peserta. Kalau bisa sebelum masuk ruang ujian, minum dulu supaya bisa lebih tenang.
2. Segera cari tempat duduk kalian masing-masing dan dengarkan segala instruksi dari pengawas. Kalau kalian merasa ngga perlu mendengarkan, kalian bisa mengisi waktu tersebut sambil berdoa dan terus berdoa, karena instruksi dari pengawas biasanya udah sangat umum.
3. Begitu lembar jawaban dibagikan segera isi dengan lengkap, hati-hati, dan teliti lembar tersebut. Isi nama dan nomor peserta dan segala macam dengan baik dan usahakan tidak ada kesalahan/menghapus (bukan berarti ngga boleh, tapi diusahakan). Bila ada kolom tanda tangan di lembar jawaban, pastikan kalian menandatangani kolom tersebut.
4. Tetap tenang dan jangan grogi.
5. Tetap berpikir positif.
6. Jangan membuka lembar soal kalau belum mendapat instruksi untuk mulai mengerjakan soal, atau kalian bisa bertanya apakah sudah boleh dikerjakan atau belum.
7. Selalu kerjakan soal dari pelajaran yang kalian anggap paling kalian bisa.
8. Setelah itu kerjakan dari soal-soal yang dianggap mudah terlebih dahulu.
9. Jangan terpaku pada satu soal yang sulit, itu sangat membuang waktu. Jika kita tidak menemukan jawabannya pada saat itu, segera tinggalkan soal tersebut dan kerjakan soal yang lain, tapi tentunya nanti jangan lupa untuk kembali mencoba soal yang susah tadi.
10. Selama ujian berlaku hukum “Lo ya Lo, Gue ya Gue!”, ngga ada yang saling kerja sama. Kalo pas UAN mungkin kita bisa saling “bahu-membahu” karena menyangkut “keselamatan” satu angkatan (udah jadi rahasia umum lah), tapi untuk masalah ini, kita saling bersaing dan berkompetisi demi memperebutkan kursi yang terbatas jumlahnya yang disediakan UI. Jangan pernah memberikan jawaban atau meminta jawaban kepada siapa pun. Sangat berisiko (lagian belum tentu benar kan?).
11. Ini yang terpenting. Selama ujian berlangsung, apapun yang terjadi, sesulit apapun soalnya, JANGAN pernah berpikir, “Gue harus masuk UI! Gue harus lulus SIMAK-UI!”, dan demi kebaikan kalian, JANGAN pernah mikir begitu dalam otak kalian! Loh kenapa? Iya, kalo selama ngerjain soal kalian mikir begitu, maka yang ada kalian akan tertekan, dan akan semakin tertekan ketika ada banyak soal yang susah dan banyak yang ngga bisa kalian jawab, ketika hal itu terjadi, maka kalian akan berpikir, “duh, gimana nih? Gimana bisa lulus? Soalnya susah-susah! Masih banyak yang kosong! Gimana bisa masuk UI? Gimana bisa diterima di Akuntansi UI (misalnya)”, dst. Alhasil? Ya. Grogi. Jadi ngga konsentrasi. Fokus kalian jadi terpecah karena mau masuk UI. Tentu bukan sesuatu yang salah kalo kalian mau masuk UI, justru emang tujuan kalian ikut SIMAK-UI adalah supaya bisa masuk UI kan? Nah, tapi dalam kasus ini, sekali lagi gw tekankan, JANGAN pernah mikir gitu. Mungkin tadinya kalian berpikir itu akan menjadi motivasi kalian, tapi sebenarnya itu bisa menjadi sumber kegagalan kalian. Jadi harus gimana? Satu strategi jitu dari gw, dan harus diinget, pasang mindset kalian menjadi, “Apapun yang terjadi, gw HARUS isi sebanyak-banyaknya!” BUKAN “Apapun yang terjadi, gw harus masuk UI!” Kenapa begitu? Ketika kalian berpikir “Apapun yang terjadi, gw HARUS isi sebanyak-banyaknya!” maka kalian akan berusaha mati-matian, semaksimal mungkin untuk bisa mengisi soal-soal tersebut sebanyak mungkin, apapun yang terjadi, sesusah apapun, kalian akan berusaha untuk mendapatkan jawaban itu, karena kalian ngga akan rela ketika ngeliat (misalnya) ternyata lembar jawaban kalian masih banyak kosong, atau ngeliat Matematika, Fisika, Ekonomi, Sejarah, atau IPA Terpadu kalian masih terisi sedikit. Dengan mengeset otak kalian dengan hal seperti itu bisa memotivasi kalian untuk bener-bener berjuang ketika ujian. Dengan mikir begitu bukan grogi yang kalian dapat, tapi justru rasa semangat yang lebih besar.
12. Ketika pada akhirnya kalian merasa sangat stress dengan soal-soal tersebut dan semakin pusing tiap membaca soal-soal ujian, satu hal yang harus kalian lakukan adalah, bulatkan tekad kalian, dan teriakkan dalam hati kalian (dalam hati aja, jangan dikeluarkan, hehe), “Apapun kata Lo, Gue MAU LULUS PTN 2009! Apapun kata Lo, Gue YAKIN LULUS PTN 2009! Apapun kata Lo, Gue PASTI LULUS PTN 2009!” dan kemudian tulis kata-kata itu di lembar soal kalian. Kalau kalian baca lagi tulisan itu, lihat, TIDAK ADA kata keharusan dalam kata-kata itu, tidak ada yang memaksa dan mengharuskan bahwa kalian harus lulus, ngga ada, tapi yang ada adalah kata-kata TEKAD dan KEYAKINAN, bahwa apapun yang terjadi, apapun kata orang, kalian ngga peduli, karena tekad kalian adalah untuk LULUS SIMAK-UI dan kalian YAKIN dengan hal itu, itu artinya perjuangan kalian untuk mengerjakan soal-soal yang belum terjawab belum selesai. Karena kalian PASTI bisa, kalian harus menunjukkan bahwa hasil belajar kalian selama ini ngga sia-sia. Kata-kata “PTN” yang dimaksud di sini adalah UI, jadi untuk kata “PTN” itu sendiri sebenarnya fleksibel, bisa diganti dengan “UI” atau bisa juga “SIMAK-UI”.
13. Jangan lupa menandatangani bukti hadir peserta ujian.
14. Ketika tanda waktu selesai berbunyi, segera tinggalkan pekerjaan kalian, tapi sebelumnya pastikan lagi bahwa segala kelengkapan data (nama, nomor peserta, dsb.) telah terisi dengan lengkap.
15. Berdoa, berdoa, dan berdoa.
Apa yang harus dilakukan setelah selesai ujian?
1. Jika kalian memilih IPA, maka setelah ujian Kemampuan IPA selesai, kalian segera persiapkan diri untuk menghadapi ujian berikutnya, yaitu Kemampuan Dasar. Setelah keluar dari ruangan, JANGAN pernah membahas soal yang telah dikerjakan tadi (entah itu MIPA, Fisika, Kimia, Biologi, atau IPA Terpadu), sebaiknya kalian segera mempersiapkan diri untuk ujian Kemampuan Dasar.
2. Jika kalian memilih IPS, maka setelah ujian Kemampuan Dasar selesai, kalian segera persiapkan diri untuk menghadapi ujian berikutnya, yaitu Kemampuan IPS. Setelah keluar dari ruangan, JANGAN pernah membahas soal yang telah dikerjakan tadi (entah itu Matematika, Bahasa Indonesia, atau Bahasa Inggris), sebaiknya kalian segera mempersiapkan diri untuk ujian Kemampuan IPS. Jarak waktu dari Kemampuan Dasar sampai dengan Kemampuan IPS ada sekitar satu jam, pergunakan waktu ini juga untuk makan siang dan itu HARUS. Karena sangat fatal akibatnya hanya karena bila kalian males makan dan ngerasa kuat, tapi tiba-tiba saat ujian kalian dengan keadaan perut kosong, itu bisa mengganggu konsentrasi.
3. Jika kalian memilih IPC, Kemampuan IPA selesai, kalian segera persiapkan diri untuk menghadapi ujian berikutnya, yaitu Kemampuan Dasar. Setelah keluar dari ruangan, JANGAN pernah membahas soal yang telah dikerjakan tadi (entah itu MIPA, Fisika, Kimia, Biologi, atau IPA Terpadu), sebaiknya kalian segera mempersiapkan diri untuk ujian Kemampuan Dasar. Begitu juga seterusnya, setelah ujian Kemampuan Dasar selesai, kalian segera persiapkan diri untuk menghadapi ujian berikutnya, yaitu Kemampuan IPS. Setelah keluar dari ruangan, JANGAN pernah membahas soal yang telah dikerjakan tadi (entah itu Matematika, Bahasa Indonesia, atau Bahasa Inggris), sebaiknya kalian segera mempersiapkan diri untuk ujian Kemampuan IPS. Jarak waktu dari Kemampuan Dasar sampai dengan Kemampuan IPS ada sekitar satu jam, pergunakan waktu ini juga untuk makan siang dan itu HARUS. Karena sangat fatal akibatnya hanya karena bila kalian males makan dan ngerasa kuat, tapi tiba-tiba saat ujian kalian dengan keadaan perut kosong, itu bisa mengganggu konsentrasi. Khusus bagi yang memilih IPC, persiapkan diri kalian dengan semaksimal mungkin, karena kalian akan ujian seharian dari pagi sampai sore. Persiapkan fisik dan mental kalian sebaik mungkin.
4. Setelah ujian benar-benar telah berakhir, SELAMAT! Kalian telah melewati salah satu pertempuran terbesar dalam hidup kalian, walau belum tau apakah menang atau kalah. Tapi ketika ujian selesai, urusan kalah/menang menjadi belakangan, yang penting selesai.
5. Sama seperti saran gw sebelumnya, setelah ujian selesai, tidak perlu berlama-lama di tempat ujian, segera pulang dan JANGAN pernah membahas soal-soal SIMAK-UI tersebut atau penasaran dengan nilai kalian! Biasanya di bimbel-bimbel nantinya akan dibahas sekaligus untuk mengetahui berapa nilai yang kalian peroleh. Gw sangat menyarankan kepada kalian untuk TIDAK membahas soal-soal SIMAK UI. Biarkan yang berlalu sudah berlalu. Biarkan masalah nilai menjadi rahasia-Nya. Yang harus kita lakukan setelah ujian hanya berdoa dan berdoa, serta tetap semangat, karena kalau ternyata kita tidak lulus SIMAK-UI berarti kita harus siap untuk sekali lagi berperang dalam SNMPTN 2009.
6. Setelah selesai ujian, bersenang-senanglah selama beberapa hari, melepas penat dan kejenuhan selama beberapa bulan berjuang untuk belajar dan belajar. Pergi nonton film bareng temen-temen bisa jadi pilihan yang sangat menarik, atau pergi jalan-jalan ke Dufan juga oke, tapi tentunya tetap tidak terlalu berlebihan. Lupakan segala hal tentang SIMAK-UI.
7. Berdoa. Ya, hanya itu satu-satunya cara yang bisa kita lakukan ketika kita telah berusaha semaksimal mungkin. Segalanya kita serahkan pada Yang Mahakuasa. Semoga apapun hasilnya adalah yang terbaik untuk kalian.
8. Kembali semangat! Ingat, perjuangan belum selesai. Selama belum ada pengumuman ”SELAMAT! ANDA DITERIMA DI UNIVERSITAS INDONESIA, JURUSAN *bla bla bla*” berarti status kalian masih mengambang, maka dari itu, kalian harus tetap semangat untuk belajar, untuk menghadapi kemungkinan SNMPTN.
9. Bagi yang beragama Islam, bernazarlah, itu sangat membantu. Nazar bisa dilakukan sebelum ujian atau setelah ujian, tapi mungkin ada baiknya kalau di jauh hari sebelum ujian.
10. Tetap ingat, “Apapun kata Lo, Gue MAU LULUS PTN 2009! Apapun kata Lo, Gue YAKIN LULUS PTN 2009! Apapun kata Lo, Gue PASTI LULUS PTN 2009!” (PTN yang dimaksud di sini adalah UI).
Semua ini adalah beberapa strategi selama menghadapi SIMAK-UI tanggal 1 Maret 2009 nanti, bahkan gw juga menambahkan strategi pasca-SIMAK-UI tentang bagaimana kita menyikapinya. Tapi semuanya kembali pada diri kalian masing-masing. Setiap orang mempunyai strategi masing-masing yang diyakininya. Apa yang gw tulis di sini mudah-mudahan bisa sedikit membantu bagi kalian yang ingin melanjutkan studinya di Universitas Indonesia ketika menghadpi ujian nanti. Posting-an blog gw selanjutnya masih akan membahas seputar strategi SIMAK-UI, gw akan membahas keunggulan dan kelemahan anak-anak IPA, IPS, dan IPC dalam ujian-ujian seleksi masuk PTN pada umumnya. Jadi, nantikan artikel berikutnya dan tetap semangat!
Fauzan Al-Rasyid
Oke, di beberapa blog gw nanti, gw akan membahas berbagai strategi mulai dari H-14 sampai dengan setelah SIMAK-UI. Untuk sekarang langsung saja gw berikan berbagai strateginya. Di posting-an ini gw akan mulai dari H-14 atau dua minggu sebelum SIMAK-UI berlangsung sampai dengan H-1 atau satu hari sebelum SIMAK-UI.
Yang harus dilakukan di H-14 s.d. H-11:
1. Pastikan kalian sudah mendaftar secara online untuk SIMAK-UI.
2. Pastikan sudah tidak ada kesalahan dalam pendaftaran dan kalian SUDAH mencetak kartu peserta ujian SIMAK UI.
3. Jangan stress dengan ujian yang tinggal dua minggu lagi, tapi buat sebagai motivasi bahwa kalian harus makin semangat demi mendapatkan cita-cita kalian di UI.
4. Belajar dan belajar, tapi tetap jangan terlalu berlebihan, tetap selingi dengan istirahat yang cukup dan makan makanan yang bervitamin dan mineral.
5. Buat suasana belajar yang menyenangkan dan tinggalkan berbagai “kesenangan sementara”, seperti ngenet, chating, browsing, termasuk Facebook-an, Friendster-an, dsb. untuk sementara waktu (cuma tinggal dua minggu)
6. Belajar kelompok/bersama sangat penting karena saling melengkapi satu sama lain.
7. Giat mengerjakan soal dan kemudian membahasnya dengan guru-guru kalian di bimbingan-bimbingan belajar atau sekolah.
8. Tawarkan diri untuk mengajari teman yang tidak bisa dalam satu atau beberapa mata pelajaran. Jangan pelit. Karena sebenarnya dengan mengajari seseorang maka secara tidak langsung kita menguji diri kita sendiri sudah sejauh mana kita menguasai materi tersebut.
9. Untuk sementara lupakan pelajaran lain yang tidak berhubungan dengan pelajaran-pelajaran yang akan diujikan di SIMAK-UI.
10. Terus kerjakan soal-soal latihan dari buku-buku Bank Soal SPMB/SNMPTN/UMB dan semacamnya yang sekaligus ada kunci jawaban dan pembahasannya.
Yang harus dilakukan di H-10 s.d. H-2:
1. Buatlah jadwal belajar untuk tiap mata pelajaran satu hari. Dimulai dari pelajaran yang paling lemah atau kurang dikuasai. Contoh (dalam kasus ini gw misalkan anak IPS): Kamis, 19 Februari 2009: Matematika. Maka selama satu hari itu benar-benar belajar matematika secara maksimal dan JANGAN sentuh pelajaran lain. Latihan berbagai soal matematika yang kita lemah di dalamnya, tapi tetap jangan terfokus pada “Matematika”, tapi di bagian Matematika mana yang kita tidak bisa, misalnya di bagian Logaritma dan Pertidaksamaan, maka kalian harus lebih fokus untuk latihan di dua materi tersebut, tentunya dengan asumsi bahwa di materi matematika yang lain kalian setidaknya lebih menguasai daripada dua hal tersebut. Kemudian di hari berikutnya lakukan hal yang sama dengan pelajaran yang berbeda, misalnya Sejarah, dan ketika belajar Sejarah JANGAN sentuh pelajaran lain.
2. Jika kalian benar-benar menerapkan hal ini itu berarti untuk anak IPS akan benar-benar belajar total per satu mata pelajaran selama enam hari (sesuai dengan jumlah mata pelajaran yang diujikan), sedangkan untuk anak IPA punya waktu delapan hari untuk mematangkan semuanya. Bagaimana dengan yang memilih IPC? Bagi yang memilih IPC, kalian tidak bisa belajar satu hari satu pelajaran, tapi harus dua pelajaran, yaitu kombinasi IPA dan IPS. Juga, untuk IPC, pastikan kalian belajar keduanya (IPA dan IPS) seimbang, tidak lebih banyak IPA atau IPS, karena kalaupun misalnya kalian berasal dari IPA dan sudah memiliki dasar IPA, jangan meremehkan bahwa kalian akan lebih mudah mengerjakan IPA sehingga kalian memilih untuk lebih banyak belajar IPS. TIDAK! Itu adalah sebuah kesalahan. Buat keduanya seimbang.
3. Di setiap pelajaran yang kalian pelajari, buatlah ringkasannya dengan menulis. Gunakan alat-alat tulis yang berwarna sehingga catatan yang kalian buat selain lebih indah dan menarik, tapi juga otak lebih cepat menangkap apa yang ditulis. Sehingga di sini kita bisa lihat bahwa dengan menulis ulang, meringkas, seperti rumus-rumus penting atau catatan-catatan lainnya, SANGAT membantu untuk mengingat hal-hal tersebut. Bila catatan tersebut lebih dikreasikan sedemikian rupa dengan menarik, maka otak akan lebih cepat mencerna dan menyimpan catatan-catatan tersebut ke dalam memori. Salah satu intinya, buat kegiatan belajar kalian semenarik mungkin, salah satunya dengan memberi warna.
4. Untuk IPS, setelah enam hari berturut-turut belajar satu hari per mata pelajaran, notes/catatan yang telah kalian buat selama enam hari itu JANGAN dibuang. Sebisa mungkin dikumpulkan menjadi satu, dan jadikan itu sebagai “Buku Sakti” kalian, karena segala macam yang penting ada di dalam kertas-kertas catatan tersebut. Maksimal 15 menit sebelum tidur malam, pastikan bahwa kalian MEMBACA catatan kalian itu, dan di pagi harinya bawa catatan itu ke sekolah untuk tetap dibaca-baca di waktu luang.
5. Untuk IPA dan IPC, setelah delapan hari berturut-turut belajar satu hari per mata pelajaran, notes/catatan yang telah kalian buat selama delapan hari itu juga JANGAN dibuang. Langsung kumpulkan menjadi satu, dan jadikan itu sebagai “Buku Sakti” kalian, karena segala macam yang penting ada di dalam kertas-kertas catatan tersebut. Maksimal 15 menit sebelum tidur malam, pastikan bahwa kalian MEMBACA catatan kalian itu, dan di pagi harinya bawa catatan itu ke sekolah untuk tetap dibaca-baca di waktu luang.
6. Selalu berdoa dan terus berdoa. Saling bermaafan antar sesama, dan jangan lagi ada rasa dendam atau penyakit hati lainnya dari diri. Minta doa dari orangtua juga sangat penting.
Yang harus dilakukan di H-1:
1. Selamat! Kalian telah berjuang. Besok adalah SIMAK-UI, kerja keras kalian selama beberapa bulan ini akan dipertaruhkan untuk satu hari ujian menuju bangku Universitas Indonesia. Untuk itu, di hari sebelum SIMAK-UI, buatlah diri kalian senyaman dan setenang mungkin. Jangan bepergian kemanapun. Tetap tinggal di rumah. Jangan terlalu banyak belajar. Kalian harus yakin bahwa kalian telah berusaha dengan belajar dan belajar setiap hari, maka sebelum “pertempuran” dimulai, ada baiknya untuk istirahat sejenak.
2. Refreshing dengan cara yang aman, seperti menonton TV, VCD, DVD, atau acara kesukaan kalian lainnya, baca-baca novel, mendengarkan acara-acara di radio favorit kalian, main game komputer, atau bagi yang punya PS bisa me-refresh dirinya dengan hal-hal tadi, tapi intinya tetap berada di rumah. Namun, tentunya juga dengan kadar yang tidak berlebihan.
3. Perhatikan makanan kalian. Jangan makan-makanan yang terlalu pedas, sekalipun kalian terbiasa makan pedas, tapi siapa yang tau kalu seandainya besok pagi pas SIMAK-UI, perut kalian “bergejolak”, dan itu yang sangat berbahaya.
4. Di malam hari, kembali keluarkan “Buku Sakti” kalian, dan bacalah selama satu jam. Setelah itu segera tidur supaya besok pagi siap dengan SIMAK-UI. Paling tidak pada pukul 21.00 kalian sudah tidur, lebih cepat mungkin lebih bagus, tapi jangan lebih dari jam 9 malam.
5. Di malam hari yang kalian lakukan BUKAN belajar lagi, karena kesempatan belajar kalian sudah habis, yang bisa kalian lakukan adalah me-review dari apa yang ada di catatan kalian, atau jika kalian punya buku-buku ringkasan untuk SMPB, itu juga bisa dibaca, tapi sifatnya hanya untuk mengingat, bukan lagi untuk dipelajari.
6. Sebelum naik ranjang, pastikan kalian sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk perlengkapan besok. Pastikan kalian membawa:
>> alas papan, bukan KTP, kartu pelajar, kartu kredit, kartu ATM, atau kartu lainnya, tapi ALAS PAPAN dan kalau bisa jangan yang terbuat dari kayu, tapi yang terbuat dari plastik atau kaca
>> pensil, alat tempur utama, pastikan pensil kalian 2B dan minimal sediakan 4 batang dan semua harus sudah dalam keadaan teraut dengan tajam, lebih banyak lebih bagus
>> karet penghapus, ini sangat penting, pilih karet penghapus yang bisa menghapus dengan bersih
>> TANDA UJIAN/KARTU PESERTA SIMAK UI, kalau ngga ada benda ini, pupus sudah harapan kalian untuk bisa masuk UI, karena ini sebagai bukti bahwa kalian sudah mendaftar dan yang mengerjakan ujian saat itu bukanlah orang lain/joki
>> pulpen, minimal satu buah, untuk tanda tangan bukti hadir
>> rautan, untuk mengantisipasi kalau keempat pensil itu ternyata ada yang patah atau tumpul, dan cukup satu saja, ngga usah banyak-banyak
>> untuk anak IPA dan IPC, bisa membawa penggaris dan jangka. Untuk apa? Ya, terkadang kalau dalam menyelesaikan soal-soal IPA yang berhubungan dengan ukur-mengukur dan lingkaran, dan kalian ngga dapat jawabannya, kita pun harus berusaha untuk menghitung manual, dan di situ lah penggaris dan jangka sangat dibutuhkan
>> saputangan, bukan tissue, benda ini sangat penting, baik bagi mereka yang emang tangannya selalu berkeringat maupun mereka yang emang ngga pernah berkeringat sama sekali, tapi untuk ujian SIMAK-UI besok, jangan sampi ngga membawa saputangan, karena faktor grogi yang tiba-tiba muncul bisa membuat kalian berkeringat
>> bawa air minum, air bisa menenangkan diri
7. Masukkan segala kelengkapan “bertempur” kalian yang udah gw sebutkan di atas tadi ke dalam tas yang besok akan kalian gunakan beserta “Buku Sakti” andalan kalian.
8. Pastikan kalian juga telah menyiapkan pakaian yang akan kalian pakai besok, untuk sebagian orang terkadang memilih pakaian bukanlah suatu hal yang mudah, dan akibatnya hanya karena memilih pakaian bisa menghabiskan waktu yang sangat berharga. Jadi, sebaiknya siapkan segala sesuatunya untuk besok pagi.
9. Pastikan kalian sudah benar-benar tau di mana besok kalian akan ujian, lokasinya, ruangannya, dan segala macam mengenai tempat ujian, termasuk pengetahuan mengenai apakah daerah tersebut macet apa ngga (selama masih di Jakarta gw rasa ngga ada yang terbebas dari kemacetan).
10. Jangan lupa pasang alarm supaya ngga telat bangun.
11. Pada pukul 21.00 usahakan untuk mengakhiri segala aktivitas komunikasi dan segeralah tidur (dan jangan lupa berdoa sebelum tidur).
Nah, ketika kalian sudah tau strategi-strategi ini, gw harap kalian bisa lebih siap untuk menghadapi SIMAK-UI tanggal 1 Maret nanti. Gw masih ada berbagai strategi lainnya, khususnya strategi di saat SIMAK-UI nantinya, juga beberapa prediksi dan spekulasi gw mengenai SIMAK-UI tahun ini serta gimana caranya melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di SIMAK-UI dan kegagalan seperti apa saja yang sangat biasa terjadi di setiap ujian masuk PTN seperti ini. Oke, sekian dari gw, semoga bermanfaat. Gw akan segera mem-post artikel berikutnya yang masih seputar strategi menghadapai SIMAK-UI. Tetap semangat dan yakin pada dari kalian sendiri!
Fauzan Al-Rasyid
1. Menentukan topik yang akan ditulis.
2. Menentukan sudut pandang/angle tulisan.
3. Mengumpulkan bahan sebanyak-banyaknya.
4. Menyusun kerangka tulisan (outline).
5. Mengembangkan kerangka tulisan (outline).
6. Mulailah menulis naskah.
Ada dua kriteria pokok yang biasa digunakan dalam pemilihan bahasa dalam menulis. Kriteria tersebut antara lain:
1. Hemat (singkat dan padat)
2. Jelas (mudah dipahami)
Berkaitan dengan masalah “hemat”, seorang penulis berkebangsaan Amerika Serikat, Mark Twain, yang juga merupakan seorang penulis karya terkenal The Adventures of Tom Sawyer berkata,
“So I never write ‘metropolis’ for 7 cents, because I can get the same money for ‘city.’ I never write ‘policeman,’ because I can get the same price for ‘cop’.”
Artinya adalah bahwa dalam menulis kita bisa mengganti kata-kata yang terlalu panjang dengan kata-kata yang lebih singkat/hemat, tetapi tidak mengurangi inti/maksud dari tulisan tersebut. Seperti Mark Twain yang lebih memilih menulis kata city daripada metropolis karena dengan arti yang sama, namun memiliki nilai hemat yang berbeda. Dalam tulisan-tulisan berbahasa Indonesia, kita bisa menerapkan hal ini seperti pada kata “dahulu” dan kita ganti dengan kata “dulu”, kata “bijaksana” bisa diganti dengan kata “bijak” atau “arif”, lalu kata “semakin” bisa diganti dengan kata “kian”, dsb., namun tetap tidak mengubah makna dari kata tersebut.
Kemudian, selain dua kriteria pokok di atas, ada juga beberapa kriteria lain, seperti:
1. Gunakan kalimat aktif
2. Gunakan kalimat positif
3. Gunakan istilah yang lazim dan hidup di masyarakat
4. Jangan menakut-nakuti pembaca
Agar suatu tulisan mudah dipahami oleh pembaca, terdapat suatu istilah, yaitu “KISS” (Keep It Simple and Short). Ada juga yang menerapkan rumusan ABC-SS yang merupakan singkatan dari Accuracy (sebuah tulisan harus akurat), Brevity (ringkas, singkat, tetapi padat), Clarity (jelas dan tidak membingungkan), Simplicity (sederhana, baik dalam pemilihan kosakata maupun susunan kata), dan Sincerity (penulisan harus juga dapat dipercaya).
Selain KISS dan ABC-SS, ada juga yang menerapkan rumusan OCBPV, yaitu Objectivity (sebuah tulisan harus lugas berdasarkan fakta, tidak boleh subjektif), Clarity, Brevity, Precision (ketepatan, akurat), Vitality (tulisan tersebut bertenaga, berdaya hidup, dan menyampaikan pesan yang bermakna).
2. Jangan pernah menipu khalayak (merekayasa, memanipulasi data/fakta, menghilangkan sebagian fakta, mengutip pernyataan secara tidak lengkap sehingga menimbulkan perbedaan makna).
3. Berlakulah setransparan mungkin dalam metode dan motivasi Anda menulis.
4. Andalkan reportasi Anda sendiri.
5. Bersikaplah rendah hati (terbuka pada pendapat orang lain).
