Strategi Menghadapi SIMAK-UI (Part IV: Perbandingan Kekuatan IPA vs. IPS)
Setelah kemarin gw menulis tentang keunggulan dan kelemahan peserta IPS, tadinya kali ini gw akan membahas mengenai keunggulan dan kelemahan peserta IPA, tapi setelah gw pikir-pikir, mungkin gw kali ini akan lebih membahas tentang kekuatan IPA dan IPS namun tetap menghubungkannya dengan keunggulan dan kelemahan peserta IPA. Ingat, yang gw tulis adalah peserta IPA, bukan siswa jurusan IPA. Kalau peserta berarti bisa dari jurusan IPA atau IPC. Walaupun hampir sebagian besar peserta IPA terdiri dari anak-anak jurusan IPA, gw tetap lebih memilih untuk menggunakan kata peserta daripada kata jurusan, karena sekarang ini yang bisa menjadi peserta IPA bukan hanya mereka yang dari jurusan IPA, melainkan juga mereka yang berasal dari jurusan IPS. Nah, tapi untuk yang berasal dari jurusan IPS sendiri, menurut apa yang gw lihat selama ini, ngga ada anak IPS yang mendaftar sebagai peserta IPA secara murni, jadi bener-bener ujiannya IPA doang, kayaknya sih ngga ada. Anak IPS yang mau milih jurusan IPA biasanya mendaftar menjadi peserta IPC karena itu jauh lebih aman dan dalam ujian IPC, ujiannya menggabungkan antara ujian IPA dan IPS, selain itu pilihan jurusan yang boleh dipilih dalam IPC boleh sebanyak tiga pilihan (2 pilihan IPA dan 1 pilihan IPS, atau sebaliknya).
Apa yang gw tulis di bawah ini merupakan hasil pengamatan gw terhadap anak-anak IPA pada umumnya. Jadi, gw mengeneralisasikannya ke dalam sebuah kesimpulan. Bagi yang membaca tentu boleh setuju atau tidak setuju. Namun, secara umum, kira-kira seperti itulah peserta IPA (khususnya anak IPA). Nah, tapi berhubung karena gw bukanlah anak IPA, gw dari IPS, jadi kehidupan gw dulu bukan berada di lingkungan IPA, melainkan IPS, makanya gw di sini ngga membahas baik keunggulan maupun kelemahan peserta IPA sebanyak apa yang udah gw tulis di artikel sebelumnya mengenai keunggulan dan kelemahan peserta IPS.
Oke, pertama, secara umum kita harus tahu bahwa persaingan memperebutkan kursi jurusan-jurusan IPA jauh lebih ketat dibandingkan dengan persaingan memperebutkan kursi jurusan-jurusan IPS. Kita tahu bahwa ada ribuan orang yang ingin melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran, ada ribuan orang yang ingin melanjutkan studinya di berbagai jurusan di Fakultas Teknik, dan sekarang ini satu fakultas yang (istilahnya) lagi naik daun adalah Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) yang di dalamnya ada jurusan Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi, juga diperebutkan oleh banyak orang. Tentunya belajar dengan giat dan tekun tidaklah cukup untuk bisa memastikan bahwa kita mendapatkan satu buah kursi di fakultas/jurusan yang kita inginkan. Harus ada taktik dan strategi yang matang juga untuk menunjang keberhasilan kita. Serta berbagai motivasi dan dorongan baik dari dalam maupun luar diri.
Oh ya, tadi gw bilang bahwa persaingan memperebutkan kursi jurusan-jurusan IPA jauh lebih ketat dibandingkan dengan persaingan memperebutkan kursi jurusan-jurusan IPS. Kenapa? Alasannya adalah karena tingkat kemampuan anak-anak IPA biasanya ngga begitu jauh antara yang satu dengan yang lain. Emang sih pasti ada yang under dan ada yang super, tapi secara umum, kemampuan anak-anak IPA dalam ujian-ujian seleksi masuk PTN antara satu sama lain biasanya ngga begitu jauh, jadi rata-rata. Mereka pada umumnya punya kelemahan yang sama di bidang Fisika dan Matematika IPA, walaupun ngga semua, tapi sekali lagi gw tekankan di sini adalah pada umumnya. Mereka pun pada umumnya punya kekuatan yang sama di bidang Biologi dan Kimia, sedangkan untuk IPA Terpadu biasanya 50:50 (fifty fifty). Nah, sedangkan persaingan memperebutkan kursi jurusan-jurusan IPS ngga seketat persaingan memperebutkan kursi jurusan-jurusan IPA karena tingkat kemampuan anak-anak IPS beragam, banyak dari mereka yang emang super, banyak yang rata-rata, tapi ngga sedikit juga yang under. Untuk anak IPS, jelas bahwa satu kelemahan mereka yang paling parah adalah di Matematika Dasar, tapi selebihnya? Bermacam-macam. Ada yang jago di Ekonomi dan Geografi, tapi sedikit lemah di Sejarah, ada juga yang jago di Geografi dan Sejarah, tapi agak lemah di Ekonomi, dsb, sedangkan untuk IPS Terpadu biasanya sama seperti kelomok IPA juga, 50:50 (fifty fifty). Jadi kelemahan anak IPS di Kemampuan IPS tidak sama, sedangkan kelemahan anak IPA di Kemampuan IPA rata-rata sama, yaitu Fisika dan setelah itu biasanya Matematika IPA, dan tempat mereka berjuang biasanya di bidang yang sama juga, yaitu Biologi dan Kimia. Nah, hal inilah yang membuat persaingan menjadi sangat ketat.
Ada ribuan orang yang memperebutkan jatah kursi yang terbatas dengan kelemahan dan kekuatan yang hampir sama, sedangkan ketika anak IPS bertempur, mereka semua bersaing memperebutkan jatah kursi yang terbatas dengan kelemahan dan kekuatan yang beragam. Selain itu, karena IPA merupakan pelajaran ilmu pasti, jadi kalau jawabannya A udah pasti A, kalau rumus X untuk menghasilkan Y adalah Z berarti rumus X-lah yang harus digunakan, sedangkan IPS merupakan pelajaran ilmu sosial, bukan berarti ilmu yang penuh dengan ketidakpastian, tapi IPS lebih merupakan ilmu yang di dalamnya menggunakan interpretasi dan hafalan (itu kalo menurut gw). Nah, ketika anak IPA menemukan soal seperti: 4x2 + 9x + a2 > 9 maka itu sudah pasti tentang sistem pertidaksamaan dan itu berarti untuk menyelesaikan soal tersebut dia harus paham mengenai sistem pertidaksamaan, nantinya jawabannya pun sudah pasti. Sebagai anak IPA pasti bisa menjawab soal seperti itu (pastinya kalau soalnya lebih jelas, karena yang gw tulis di situ cuma sepotong aja, jadi lebih menegaskan bahwa itu pasti tentang sistem pertidaksamaan).
Bandingkan dengan IPS, misalnya dalam pilihan ganda ada soal: Apakah yang menyebabkan terjadinya politik etis di Indonesia pada masa penjajahan Belanda? Nah, pilihan jawaban yang disediakan ada lima butir (a, b, c, d, dan e) dan tentu jawabannya hanya ada satu (kalau ngga a, b, c, d, ya e, gitu kan?), tapi masalahnya hampir rata-rata tipe-tipe soal yang menanyakan sebab, akibat, alasan, dsb. itu memiliki pilihan-pilihan jawaban yang kalau dilihat sekilas hampir-hampir mirip satu sama lain (jadi emang butuh ketelitian). Di sinilah interpretasi tiap anak IPS dalam menjawab soal berbeda-beda. Padahal soal tersebut termasuk soal yang mudah, lagipula pasti sudah dipelajari selama di SMA, dan pasti diulang kembali di bimbel-bimbel. Jadi dalam satu soal IPS, jawaban seluruh peserta IPS dari Sabang sampai Merauke bisa sangat beraneka ragam (bisa a, b, c, d, atau e), tergantung bagaimana mereka menginterpretasikan soal tersebut walaupun pastinya ada salah satu jawaban yang benar, tapi jawaban bisa menjadi sangat beragam.
Kembali ke soal IPA, satu lagi contoh: Nilai minimum dari Z = 3x + 6y yang memenuhi syarat 4x + y ≥ 20; x + y ≤ 20; x + y ≥ 10; x ≥ 0; y ≥ 0 adalah? Dari contoh soal tersebut tentu dapat dipastikan bahwa itu adalah soal tentang Program Linear. Untuk menyelesaikannya tentu dengan menggambar grafik, lalu mencari daerah yang dimaksud dengan mengarsirnya, nah biasanya begitu. Karena ini (sebenarnya) termasuk kategori soal yang mudah, pasti jawaban yang didapat dari soal tersebut dari Sabang sampai Merauke sama semua. Dari kelima pilihan jawaban yang disediakan: (misalnya) a.20, b.30, c.40, d.50, dan e.60, tentu dengan cara yang sama akan didapat jawaban yang sama pula, yaitu d.50.
Nah, di sini kita melihat bahwa ketika anak IPA mengerjakan soal-soal IPA bisa terjadi dua kemungkinan, pertama jika soal tesebut mudah, maka semua anak IPA pasti bisa mengerjakan soal tersebut dan jawabannya pasti sama. Kedua, jika soal tesebut susah, maka hampir semua anak IPA kesulitan mengerjakan soal tersebut dan jawabannya pasti tidak akan sama. Bagaimana dengan IPS? Ketika anak IPS mengerjakan soal-soal IPS bisa terjadi banyak kemungkinan: jika soal tersebut mudah, maka semua anak IPS pasti bisa mengerjakan soal tersebut, tapi jawabannya belum tentu sama atau benar antara satu sama lain. Ini disebabkan oleh perbedaan interpretasi tiap anak berbeda dalam menganalisis soal. Sementara itu, jika soal tesebut susah, maka hampir semua anak IPS kesulitan mengerjakan soal tersebut.
Pada akhirnya, nilai akhir yang didapat oleh anak-anak IPA biasanya tidak berbeda jauh antara satu sama lain, ngga ada yang terlalu tinggi dan ngga ada yang terlalu rendah, range nilai mereka sangat ketat, bahkan bisa hanya berbeda nol koma sekian, sedangkan nilai akhir yang didapat oleh anak-anak IPS biasanya sangat beragam, dalam satu jurusan, orang-orang yang diterima di dalamnya ada yang memiliki nilai paling tinggi dan ada juga yang paling rendah, jadi ada sebuah range/jarak nilai antara yang tertinggi dan terendah yang cukup terlihat.
Jadi, kalau berdasarkan apa yang gw perhatikan selama ini, kira-kira seperti itulah gambaran umum tentang perbandingan kekuatan IPA dan IPS ketika menghadapi ujian-ujian seleksi masuk PTN. Keunggulan anak-anak IPA rata-rata sama, mereka punya kemauan keras, motivasi yang kuat, lebih tekun, dan teliti. Kenapa mereka bisa seperti itu? Ya, kalau menurut gw ada banyak faktor, seperti anggapan bahwa pelajaran IPA itu sulit (terutama Fisika, kayaknya itu salah satu hal yang melandasi pernyataan bahwa IPA itu sulit), peminat jurusan IPA di PTN-PTN sangat banyak dan itu berarti persaingannya sangat berat, jadi untuk bisa masuk ke jurusan-jurusan IPA favorit yang diperebutkan oleh banyak orang, tentu sangat dibutuhkan sifat-sifat yang mendukung agar bisa lulus PTN, ya seperti itu tadi, sifat rajin, tekun, dan teliti, itulah yang biasanya menjadi sifat dasar anak-anak IPA, bukan berarti anak IPS ngga begitu, tapi sifat rajin, tekun, dan telitinya anak IPS agak berbeda dengan anak-anak IPA (hehe). Selain itu masih ada faktor-faktor lain yang membentuk kepribadian anak-anak IPA pada umumnya, tapi tentunya gw ngga akan menjelaskan semuanya.
Sementara untuk kelemahan anak-anak IPA, seperti yang udah gw jelaskan di atas juga, gw rasa kelemahan mereka lebih kepada pelajaran-pelajaran yang sangat kurang diminati, terutama Fisika. Ah, tapi toh biar begitu juga, tetap ada yang memilih jurusan Fisika dan Matematika di perguruan tinggi, itu kan berarti menandakan bahwa tidak semua anak IPA menganggap Fisika itu menakutkan, ya walaupun mungkin hanya segelintir orang yang berpikir bahwa Fisika itu menyenangkan (dan gw udah pasti bukan salah satunya), tapi gw rasa itu mengindikasikan bahwa sesulit apapun pelajaran itu, dalam hal ini gw menekankan pada Fisika, kalian sudah mempelajarinya selama tiga tahun di SMA (bahkan sejak SMP udah dikenalkan dengan si Fisika), berarti sebenarnya kalian udah tau banget deh tentang si Fisika ini, dan seharusnya ngga perlu takut atau bahkan stress gara-gara Fisika, ya mungkin kalau kalian berpikir mudah bagi gw yang cuma ngomong yang ngga merasakan Fisika, gw ngga akan menyangkal hal itu, tapi menurut gw setiap permasalahan pasti ada pemecahannya, dan pemecahannya itu bisa kalian dapatkan sendiri, dari dari kalian sendiri. Jadi, jangan takut dengan apa yang kalian pikir ngga bisa menghadapinya, kalau kalian bener-bener mikir ngga bisa maka akan semakin ngga bisalah kalian, tapi kalau kalian memulainya dengan suatu pikiran positif, gw yakin pasti kalian bisa menghadapinya, masalah ternyata bisa apa ngga, itu masalah belakangan, tapi yang penting kalian ngga kalah sebelum perang.
Dulu kalian yang memilih IPA (ya mungkin bagi sebagian orang, IPA adalah pilihan orangtuanya), berarti kalian harus bertanggung jawab dengan pilihan kalian ini, dan buktikan status ke-IPA-an kalian dalam SIMAK-UI ini bahwa kalian pun bisa menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Indonesia di Agustus 2009 nanti. Oh ya, satu hal lagi, kalian anak-anak IPA yang mengambil jurusan IPA di perguruan tinggi berarti kalian telah konsisten dengan pilihan kalian, IPA. Berarti emang ngga salah kalian memilih IPA sebagai jurusan kalian di SMA, dan tanpa bermaksud menyinggung yang lain, gw rasa kalian boleh bangga dengan kekonsistensian kalian. Buktikan bahwa kalian bisa dan mampu bersaing dengan ribuan anak IPA lainnya yang memilih FK, FT, FKM, FMIPA, FASILKOM, dan fakultas-fakultas jurusan IPA lainnya. Selamat berjuang para pejuang IPA!
Fauzan Al-Rasyid