Kisah Malam Balas Jasa
Wah, apakah MBJ itu? Nah, sebelum membahas ke arah MBJ, gw mau mencoba untuk mengangkat akar masalahnya dulu, hmm… jadi lebih kurang begini, sampai saat ini di UI pada umumnya dan FISIP pada khususnya masih mengenal suatu kegiatan penerimaan mahasiswa-mahasiswa baru yang kalo bahasa sekarang dikenal dengan nama inisiasi, kalo jaman dulu lebih dikenal dengan ospek, ya… sebenarnya sih sama aja, toh, baik ospek maupun inisiasi intinya adalah memberikan masa orientasi atau pengenalan terhadap lingkungan kampus dari para senior kepada para mahasiswa baru (baca: junior), cuma kayaknya kalo ospek kesannya lebih negatif dan agak menyeramkan. Emang kenapa? Ya… melihat dari pengalaman-pengalaman orang tua yang dulu juga pernah mengalami ospek, haha, ya bisa ditanya sendiri lah seperti apa kira-kira pengalaman mereka. Nah, jadi kayaknya sekarang ini kita lebih enak memakai istilah inisiasi, lebih enak didengar juga kayaknya.
Kegiatan-kegiatan inisiasi di FISIP UI dilaksanakan hampir oleh semua departemen, kenapa gw bilang hampir? Karena setau gw dari delapan departemen (bukan jurusan loh ya, kalo jurusan ada lebih dari delapan) di FISIP, Departemen Ilmu Politik tidak mengadakan kegiatan-kegiatan inisiasi sejak beberapa tahun yang lalu (gw kurang tau persisnya sejak kapan). Puncak acara inisiasi di FISIP disebut dengan SARASEHAN atau biasa disingkat SAR. Nah, kalo ada puncak acara berarti ada acara-acara sebelumnya dong? Ya, itu benar. Ada acara-acara sebelum SAR yang sebetulnya masih proses inisiasi juga, yang disebut sebagai Pra-SAR. Lamanya kegitan Pra-SAR tergantung dari masing-masing jurusan, atau mungkin lebih tepatnya tergantung jadwal kegiatan yang udah diatur oleh masing-masing Himpunan Mahasiswa (HM) tiap jurusan.
Setelah Pra-SAR kemudian diadakan SAR atau acara puncak dari rangkaian acara inisiasi selama beberapa bulan. Setelah SAR apakah ada acara lagi? Ternyata masih ada lagi. Acara ini lah yang disebut sebagai Malam Balas Jasa (MBJ). Nah, sekarang bagi yang membaca tulisan gw ini, gw pengen tau deh, anggap kalian sebagai orang yang baru pertama kali mendengar istilah MBJ, apa yang muncul di benak kalian? Kalo gw pribadi, ketika pertama kali gw mendengar istilah MBJ, gw malah bingung. Loh kenapa bingung? Ya jelas aja bingung, emang kita membalas jasa kepada siapa dan karena apa?
Ternyata ya… sebetulnya inti dari MBJ itu sama dengan Malam Keakraban (Makrab) cuma beda nama, tapi tetap menurut gw, punya makna yang berbeda. Dan memang, ada beberapa hal yang jadi pertanyaan gw. Pertama, kenapa sih namanya “Malam Balas Jasa” bukannya “Malam Keakraban” aja? Toh emang inti dari acara tersebut adalah malam bersenang-senang dan saling mengakrabkan antarangkatan. Kemudian, pertanyaan berikutnya, apakah junior (mahasiswa baru) benar-benar harus “membalas jasa” kepada para kakak-kakak senior? Maaf nih, bukan karena gw adalah salah satu yang ngga ikut SAR (dan juga Pra-SAR) sehingga bisa ngomong kayak gini, seandainya gw ikut pun, gw pasti akan mempertanyakan hal ini. Ya, kalo dipikir-pikir secara akal sehat, gw rasa agak terlalu berlebihan untuk membuat suata acara “balas jasa”, toh pada akhirnya banyak dari acara-acara MBJ tersebut yang berakhir dengan hura-hura sampai tengah malam, dan maka dari itu gw ngga melihat sesuatu yang nyambung antara “balas jasa” dengan bersenang-senang, bukankah lebih cocok dengan kata “keakraban”?
Kemudian, gw rasa agak lucu aja dengan acara “Malam Balas Jasa” ini, ya, gw tentu mengungkapkan ini tanpa ada maksud menghina bahkan merendahkan mereka yang membuat acara MBJ ini, ngga gitu kok, justru gw sangat salut dengan mereka yang berusaha keras mati-matian demi terciptanya acara MBJ tersebut. Kembali lagi, gw rasa judul acara MBJ agak lucu. Kenapa? Ya… lucu aja. Menggambarkan sebuah loyalitas yang luar biasa dari mahasiswa-mahasiswa baru (junior) kepada kakak-kakak seniornya setelah menginisiasi, sampai membuat acara Malam Balas Jasa. Bayangkan, balas jasa. Wah, gw mendengarnya aja merinding. Salut lah gw, ya terlepas dari kata-kata “Malam Balas Jasa” ini merupakan sebuah tradisi, tapi ya… duh, katanya mahasiswa sebagai agen perubahan, haha, ya lucu aja kan. Bahkan kita ngga pernah membuat “Malam Balas Jasa” untuk para pahlawan yang telah berjuang mati-matian dengan tumpah darahnya demi memerdekakan negeri ini. Oh oke, mungkin itu terlalu muluk-muluk kali ya? Ya, rasa nasionalisme kita udah luntur dan itu ngga bisa dipungkiri. Oke, gw ganti, bahkan kita ngga pernah membuat “Malam Balas Jasa” untuk para pemimpin bangsa ini, para pemimpin yang berusaha menyatukan negeri ini dari kehancuran! Haha, yah! Ngapain? Kerjanya cuma bisa korupsi kan? Begitukah?
Atau mungkin, bahkan kita ngga pernah membuat “Malam Balas Jasa” untuk guru-guru kita, orang-orang yang telah membuat kita pintar, dari SD sampai SMA (mungkin juga dari TK) bahkan kita bisa diterima dan melanjutkan pendidikan di UI seperti sekarang ini pun tidak terlepas dari peran para guru, mulai dari guru SMA, guru Bimbel, guru Privat, dsb. Wah, tapi ternyata susah juga, kan katanya guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, jadi ya… ngga perlu lah bikin malam balas jasa untuk guru. Begitukah?
Ya, oke oke, gimana kalau, bahkan kita ngga pernah membuat “Malam Balas Jasa” untuk orangtua kita, karena merekalah kita bisa lahir di dunia ini, jasa-jasa mereka tentu ngga akan pernah bisa terbalas semua, doa-doa mereka yang selalu mereka lantunkan dalam setiap ibadahnya, semua untuk anak-anaknya. Apalagi jasa seorang ibu. Ibu yang sudah melahirkan kita. Wah! Ternyata masih sangat sulit! Lah, kan lagunya, “Kasih ibu, kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali...” nah, itu dia, ibu tidak pernah mengharapkan balas jasa dari anak-anaknya, ibu itu tulus. Ya udah kalo gitu kita balas jasa sama siapa dong? Nah, yang gampang ya… ke kakak-kakak senior aja lah, sekalian kan bisa jadi tambah akrab juga. Keakraban antarangkatan itu penting loh! Jadi MBJ ini sangat penting untuk bisa dilaksanakan demi terbangunnya suatu citra positif dari kakak-kakak senior terhadap angkatan kita. Jadi, kalo ngga bikin MBJ, yah… nanti akan ada citra yang kurang baik dari kakak-kakak senior. Jadi bahan omongan kakak-kakak senior. Jadi, sebaiknya kita bikin, toh ngga ada ruginya juga.
Begitukah? Ya, mahasiswa FISIP UI angkatan 2008, hanya kalian yang bisa menjawabnya.
Ya, itulah yang terjadi pada mahasiswa FISIP sekarang ini. Ini sebuah kenyataan yang memang benar-benar terjadi. Status sebagai agen perubahan tampaknya memang belum sama sekali melekat dalam diri mahasiswa. Seandainya memang ada orang-orang yang mempunyai pemikiran untuk mengubah tradisi ini (dan gw yakin itu ada), tapi sayangnya orang-orang tersebut tidak benar-benar mengungkapkannya. Buat gw, acara seperti ini, ya… ngga masalah, tapi gw cuma ngga setuju dengan namanya, yaitu Malam Balas Jasa, entah apakah kami sebagai junior sebegitu berutang budinyakah kepada kakak-kakak senior sehingga harus membalas jasa-jasa kakak-kakak selama ini? Ya, jujur, buat gw, itu agak berlebihan. Gw lebih setuju kalo acara tersebut dinamakan Malam Keakraban, karena sebetulnya memang itu kan intinya?
Dan, sekalipun gw lebih setuju dengan nama Malam Keakraban daripada Malam Balas Jasa, tentu kita juga harus melihat, perlu atau tidaknya acara-acara tersebut dan bagaimana kita mengemas acara tersebut. Beberapa MBJ yang sudah dan akan dilaksanakan, memang lebih menonjolkan hura-hura dan senang-senang. Apakah itu salah? Wah, ngga lah, itu hak setiap orang untuk berpesta bersama. Tapi, apakah tepat? Sesuatu yang benar belum tentu tepat kan? (sesuatu yang tepat sudah pasti benar) Ya, gw sama sekali ngga melarang mereka yang membuat konsep seperti itu (ya apa hak gw untuk melarang? haha), dan gw sama sekali ngga ada perasaan ngga suka terhadap konsep acara yang seperti itu, gw hanya ingin untuk angkatan 2008 bisa lebih berpikir jauh ke depan, apakah suatu acara perlu atau tidak, benar atau tidak, dan tepat atau tidak. Itulah yang harus kita pikirkan.
Sekarang ini kalau kita lihat, Indonesia, khususnya Jakarta sudah memasuki era globalisasi, mereka yang kaya semakin kaya, yang susah, ya… kalo ngga kerja keras dan berusaha tentu akan semakin susah (di Indonesia lebih banyak yang susah), namun tidak menjamin juga bagi yang bekerja keras akan mudah jalan hidupnya. Sekarang pertanyaannya, tepatkan kita sebagai mahasiswa (mahasiswa UI, kampus perjuangan, kampus rakyat) mengadakan acara-acara pesta, senang-senang, mengeluarkan uang sangat banyak (kalo sekarang istilahnya, hedon – dari kata hedonisme), sementara di luar sana, bahkan sebenarnya ngga di luar banget, di dekat kita, di sekitar kita, masih banyak orang yang ya… untuk makan sekali sehari aja susah, gimana untuk bersenang-senang? Mungkin ngga akan bisa… Tentu jawabannya kembali pada diri kita masing-masing, kalau ada yang menjawab masih tepat dan boleh aja, ya ngga apa-apa, itu hak kalian, kita semua punya hak untuk bersenang-senang dan mengakrabkan diri satu sama lain, dan itu benar, gw ngga menyalahkan itu. Bagi yang menjawab tepat tapi tetap ada batasannya, ya, kalau begitu buatlah batasan-batasan yang jelas. Bagi yang menjawab tidak tepat, tentu janganlah menjadi orang-orang yang apatis dan ngga suka dengan segala hal yang berbau kesenangan, yang benar adalah, pikirkan cara lain yang lebih baik, pikirkan suatu acara yang juga bertemakan keakraban tanpa harus berfoya-foya atau mengeluarkan dana yang besar. Ya, terlepas dari (gw yakin) sebagian besar anak-anak FISIP adalah anak-anak yang mampu, ya, minimal masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya, tapi bukankah alangkah lebih baik jika dari sekarang kita belajar menjadi orang-orang yang bisa menempatkan dan mengendalikan diri, khususnya untuk masalah hura-hura, senang-senang, foya-foya, dan sebagainya. Sekali lagi, bukan tidak boleh, tapi tepatkah? Ya, jawabannya kembali kepada diri kita masing-masing. Semoga kita, mahasiswa FISIP, bisa menjadi para agen perubahan, minimal perubahan kecil dari diri kita sendiri, karena dari perubahan kecil dari diri kita inilah akan tercipta suatu perubahan besar.
Untuk angkatan 2008, BANGKIT INDONESIA!