Tuesday, March 3, 2009

Kisah Malam Balas Jasa

Hmm… ngga terasa teryata gw udah melalui satu semester dengan menyandang status sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI. Wow, suatu hal yang sangat luar biasa dan gw sangat bersyukur karenanya. Ya, tentu bukan hal yang sangat mudah untuk menjadi seorang mahasiswa yang “lurus”, apalagi katanya sih, mahasiswa itu sebagai agen perubahan (kalo bahasa kerennya agent of change) jadi mahasiswa harus bisa merubah hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kerakyatan, ya… pokoknya mahasiswa harus berpihak pada rakyat, begitulah kira-kira (Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!), hehe, hebat kan? Dan belum lagi ditambah dengan status mahasiswa UI, mahasiswa dari (yang katanya) kampus rakyat dan kampus perjuangan. Wah! Sungguh luar biasa rasanya!

Nah, berkaitan dengan tugas mahasiswa sebagai agen perubahan, ada satu hal menarik (dan sebetulnya cukup menggelitik, buat gw tentunya) yang gw perhatikan dalam beberapa minggu belakangan ini di FISIP UI, ya fakultas gw tentunya. Ada apa gerangan? Ya, para mahasiswa FISIP UI angkatan 2008 sedang sibuk sekali membicarakan salah satu topik pembicaraan yang cukup hot, khususnya di beberapa jurusan tertentu, yaitu mengenai masalah acara Malam Balas Jasa atau biasa disebut MBJ.

Wah, apakah MBJ itu? Nah, sebelum membahas ke arah MBJ, gw mau mencoba untuk mengangkat akar masalahnya dulu, hmm… jadi lebih kurang begini, sampai saat ini di UI pada umumnya dan FISIP pada khususnya masih mengenal suatu kegiatan penerimaan mahasiswa-mahasiswa baru yang kalo bahasa sekarang dikenal dengan nama inisiasi, kalo jaman dulu lebih dikenal dengan ospek, ya… sebenarnya sih sama aja, toh, baik ospek maupun inisiasi intinya adalah memberikan masa orientasi atau pengenalan terhadap lingkungan kampus dari para senior kepada para mahasiswa baru (baca: junior), cuma kayaknya kalo ospek kesannya lebih negatif dan agak menyeramkan. Emang kenapa? Ya… melihat dari pengalaman-pengalaman orang tua yang dulu juga pernah mengalami ospek, haha, ya bisa ditanya sendiri lah seperti apa kira-kira pengalaman mereka. Nah, jadi kayaknya sekarang ini kita lebih enak memakai istilah inisiasi, lebih enak didengar juga kayaknya.

Kegiatan-kegiatan inisiasi di FISIP UI dilaksanakan hampir oleh semua departemen, kenapa gw bilang hampir? Karena setau gw dari delapan departemen (bukan jurusan loh ya, kalo jurusan ada lebih dari delapan) di FISIP, Departemen Ilmu Politik tidak mengadakan kegiatan-kegiatan inisiasi sejak beberapa tahun yang lalu (gw kurang tau persisnya sejak kapan). Puncak acara inisiasi di FISIP disebut dengan SARASEHAN atau biasa disingkat SAR. Nah, kalo ada puncak acara berarti ada acara-acara sebelumnya dong? Ya, itu benar. Ada acara-acara sebelum SAR yang sebetulnya masih proses inisiasi juga, yang disebut sebagai Pra-SAR. Lamanya kegitan Pra-SAR tergantung dari masing-masing jurusan, atau mungkin lebih tepatnya tergantung jadwal kegiatan yang udah diatur oleh masing-masing Himpunan Mahasiswa (HM) tiap jurusan.

Setelah Pra-SAR kemudian diadakan SAR atau acara puncak dari rangkaian acara inisiasi selama beberapa bulan. Setelah SAR apakah ada acara lagi? Ternyata masih ada lagi. Acara ini lah yang disebut sebagai Malam Balas Jasa (MBJ). Nah, sekarang bagi yang membaca tulisan gw ini, gw pengen tau deh, anggap kalian sebagai orang yang baru pertama kali mendengar istilah MBJ, apa yang muncul di benak kalian? Kalo gw pribadi, ketika pertama kali gw mendengar istilah MBJ, gw malah bingung. Loh kenapa bingung? Ya jelas aja bingung, emang kita membalas jasa kepada siapa dan karena apa?

Ternyata ya… sebetulnya inti dari MBJ itu sama dengan Malam Keakraban (Makrab) cuma beda nama, tapi tetap menurut gw, punya makna yang berbeda. Dan memang, ada beberapa hal yang jadi pertanyaan gw. Pertama, kenapa sih namanya “Malam Balas Jasa” bukannya “Malam Keakraban” aja? Toh emang inti dari acara tersebut adalah malam bersenang-senang dan saling mengakrabkan antarangkatan. Kemudian, pertanyaan berikutnya, apakah junior (mahasiswa baru) benar-benar harus “membalas jasa” kepada para kakak-kakak senior? Maaf nih, bukan karena gw adalah salah satu yang ngga ikut SAR (dan juga Pra-SAR) sehingga bisa ngomong kayak gini, seandainya gw ikut pun, gw pasti akan mempertanyakan hal ini. Ya, kalo dipikir-pikir secara akal sehat, gw rasa agak terlalu berlebihan untuk membuat suata acara “balas jasa”, toh pada akhirnya banyak dari acara-acara MBJ tersebut yang berakhir dengan hura-hura sampai tengah malam, dan maka dari itu gw ngga melihat sesuatu yang nyambung antara “balas jasa” dengan bersenang-senang, bukankah lebih cocok dengan kata “keakraban”?

Kemudian, gw rasa agak lucu aja dengan acara “Malam Balas Jasa” ini, ya, gw tentu mengungkapkan ini tanpa ada maksud menghina bahkan merendahkan mereka yang membuat acara MBJ ini, ngga gitu kok, justru gw sangat salut dengan mereka yang berusaha keras mati-matian demi terciptanya acara MBJ tersebut. Kembali lagi, gw rasa judul acara MBJ agak lucu. Kenapa? Ya… lucu aja. Menggambarkan sebuah loyalitas yang luar biasa dari mahasiswa-mahasiswa baru (junior) kepada kakak-kakak seniornya setelah menginisiasi, sampai membuat acara Malam Balas Jasa. Bayangkan, balas jasa. Wah, gw mendengarnya aja merinding. Salut lah gw, ya terlepas dari kata-kata “Malam Balas Jasa” ini merupakan sebuah tradisi, tapi ya… duh, katanya mahasiswa sebagai agen perubahan, haha, ya lucu aja kan. Bahkan kita ngga pernah membuat “Malam Balas Jasa” untuk para pahlawan yang telah berjuang mati-matian dengan tumpah darahnya demi memerdekakan negeri ini. Oh oke, mungkin itu terlalu muluk-muluk kali ya? Ya, rasa nasionalisme kita udah luntur dan itu ngga bisa dipungkiri. Oke, gw ganti, bahkan kita ngga pernah membuat “Malam Balas Jasa” untuk para pemimpin bangsa ini, para pemimpin yang berusaha menyatukan negeri ini dari kehancuran! Haha, yah! Ngapain? Kerjanya cuma bisa korupsi kan? Begitukah?

Atau mungkin, bahkan kita ngga pernah membuat “Malam Balas Jasa” untuk guru-guru kita, orang-orang yang telah membuat kita pintar, dari SD sampai SMA (mungkin juga dari TK) bahkan kita bisa diterima dan melanjutkan pendidikan di UI seperti sekarang ini pun tidak terlepas dari peran para guru, mulai dari guru SMA, guru Bimbel, guru Privat, dsb. Wah, tapi ternyata susah juga, kan katanya guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, jadi ya… ngga perlu lah bikin malam balas jasa untuk guru. Begitukah?

Ya, oke oke, gimana kalau, bahkan kita ngga pernah membuat “Malam Balas Jasa” untuk orangtua kita, karena merekalah kita bisa lahir di dunia ini, jasa-jasa mereka tentu ngga akan pernah bisa terbalas semua, doa-doa mereka yang selalu mereka lantunkan dalam setiap ibadahnya, semua untuk anak-anaknya. Apalagi jasa seorang ibu. Ibu yang sudah melahirkan kita. Wah! Ternyata masih sangat sulit! Lah, kan lagunya, “Kasih ibu, kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali...” nah, itu dia, ibu tidak pernah mengharapkan balas jasa dari anak-anaknya, ibu itu tulus. Ya udah kalo gitu kita balas jasa sama siapa dong? Nah, yang gampang ya… ke kakak-kakak senior aja lah, sekalian kan bisa jadi tambah akrab juga. Keakraban antarangkatan itu penting loh! Jadi MBJ ini sangat penting untuk bisa dilaksanakan demi terbangunnya suatu citra positif dari kakak-kakak senior terhadap angkatan kita. Jadi, kalo ngga bikin MBJ, yah… nanti akan ada citra yang kurang baik dari kakak-kakak senior. Jadi bahan omongan kakak-kakak senior. Jadi, sebaiknya kita bikin, toh ngga ada ruginya juga.

Begitukah? Ya, mahasiswa FISIP UI angkatan 2008, hanya kalian yang bisa menjawabnya.

Ya, itulah yang terjadi pada mahasiswa FISIP sekarang ini. Ini sebuah kenyataan yang memang benar-benar terjadi. Status sebagai agen perubahan tampaknya memang belum sama sekali melekat dalam diri mahasiswa. Seandainya memang ada orang-orang yang mempunyai pemikiran untuk mengubah tradisi ini (dan gw yakin itu ada), tapi sayangnya orang-orang tersebut tidak benar-benar mengungkapkannya. Buat gw, acara seperti ini, ya… ngga masalah, tapi gw cuma ngga setuju dengan namanya, yaitu Malam Balas Jasa, entah apakah kami sebagai junior sebegitu berutang budinyakah kepada kakak-kakak senior sehingga harus membalas jasa-jasa kakak-kakak selama ini? Ya, jujur, buat gw, itu agak berlebihan. Gw lebih setuju kalo acara tersebut dinamakan Malam Keakraban, karena sebetulnya memang itu kan intinya?

Dan, sekalipun gw lebih setuju dengan nama Malam Keakraban daripada Malam Balas Jasa, tentu kita juga harus melihat, perlu atau tidaknya acara-acara tersebut dan bagaimana kita mengemas acara tersebut. Beberapa MBJ yang sudah dan akan dilaksanakan, memang lebih menonjolkan hura-hura dan senang-senang. Apakah itu salah? Wah, ngga lah, itu hak setiap orang untuk berpesta bersama. Tapi, apakah tepat? Sesuatu yang benar belum tentu tepat kan? (sesuatu yang tepat sudah pasti benar) Ya, gw sama sekali ngga melarang mereka yang membuat konsep seperti itu (ya apa hak gw untuk melarang? haha), dan gw sama sekali ngga ada perasaan ngga suka terhadap konsep acara yang seperti itu, gw hanya ingin untuk angkatan 2008 bisa lebih berpikir jauh ke depan, apakah suatu acara perlu atau tidak, benar atau tidak, dan tepat atau tidak. Itulah yang harus kita pikirkan.

Sekarang ini kalau kita lihat, Indonesia, khususnya Jakarta sudah memasuki era globalisasi, mereka yang kaya semakin kaya, yang susah, ya… kalo ngga kerja keras dan berusaha tentu akan semakin susah (di Indonesia lebih banyak yang susah), namun tidak menjamin juga bagi yang bekerja keras akan mudah jalan hidupnya. Sekarang pertanyaannya, tepatkan kita sebagai mahasiswa (mahasiswa UI, kampus perjuangan, kampus rakyat) mengadakan acara-acara pesta, senang-senang, mengeluarkan uang sangat banyak (kalo sekarang istilahnya, hedon – dari kata hedonisme), sementara di luar sana, bahkan sebenarnya ngga di luar banget, di dekat kita, di sekitar kita, masih banyak orang yang ya… untuk makan sekali sehari aja susah, gimana untuk bersenang-senang? Mungkin ngga akan bisa… Tentu jawabannya kembali pada diri kita masing-masing, kalau ada yang menjawab masih tepat dan boleh aja, ya ngga apa-apa, itu hak kalian, kita semua punya hak untuk bersenang-senang dan mengakrabkan diri satu sama lain, dan itu benar, gw ngga menyalahkan itu. Bagi yang menjawab tepat tapi tetap ada batasannya, ya, kalau begitu buatlah batasan-batasan yang jelas. Bagi yang menjawab tidak tepat, tentu janganlah menjadi orang-orang yang apatis dan ngga suka dengan segala hal yang berbau kesenangan, yang benar adalah, pikirkan cara lain yang lebih baik, pikirkan suatu acara yang juga bertemakan keakraban tanpa harus berfoya-foya atau mengeluarkan dana yang besar. Ya, terlepas dari (gw yakin) sebagian besar anak-anak FISIP adalah anak-anak yang mampu, ya, minimal masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya, tapi bukankah alangkah lebih baik jika dari sekarang kita belajar menjadi orang-orang yang bisa menempatkan dan mengendalikan diri, khususnya untuk masalah hura-hura, senang-senang, foya-foya, dan sebagainya. Sekali lagi, bukan tidak boleh, tapi tepatkah? Ya, jawabannya kembali kepada diri kita masing-masing. Semoga kita, mahasiswa FISIP, bisa menjadi para agen perubahan, minimal perubahan kecil dari diri kita sendiri, karena dari perubahan kecil dari diri kita inilah akan tercipta suatu perubahan besar.

Untuk angkatan 2008, BANGKIT INDONESIA!

Posted by Fauzan at 12:10:08
Comments

81 Responses to “Kisah Malam Balas Jasa”

  1. Anonymous says:

    yg gue bingung, kata lo, lo hanya mencoba mengeluarkan segala hal yg berhubungan dgn MBJ yg muter-muter di otak lo ke dalam sebuah tulisan.
    ngapain lo cape2 mikirin ttg MBJ?
    emang lo direpotin sama kegiatan yg bernama MBJ?
    emg lo dirugiin?
    engga kan?
    emang ada pihak yg dirugiin sampe2 lo merasa mesti berbuat sesuatu agar kebenaran bisa terungkap.
    ahahahahhahaha…..
    klo lo merasa terganggu ttg MBJ ini,khususnya KOM,lebih baik lo ngomongin langsung aja

    dan menurut gue,lo nyari sensasi. knp gue blg gitu
    karna hal sepele kaya gini aja lo besar2in
    cuma permasalahan nama MBJ dan artinya
    menurut gue itu sm skali ga penting

    perihal ttg dr semua komen, rata-rata ank Kom yg komen. karna gue sbgai anak kom ngrasa kalo tulisan lo ttg MBJ ini salah.
    gue bingung aja,knapa lo ga observasi dulu sblm bikin ni tulisan?
    kalo cm mau tau gmn sih ank-ank FISIP menanggapi mslh ini sih mending lo langsung tanya aja
    jgn bikin tulisan kaya gini tanpa bukti yg otentik

    ya pastilah gue cemas
    tiap orang juga kalo bikin acara pasti ada rasa cemasnya kan?
    lo pasti tau bgt ttg hal itu, secara lo kan aktif bgt di kegiatan kampus sm aktif ikut kepanitiaan..
    gue cuma takut terjadi salah pengertian
    karna pembicaraan mengenai MBJ ini di omongin lewat tulisan
    seengganya kl diomongin face to face bisa jelas
    tapi lewat tulisan, banyak aja persepsi orang ttg MBJ.
    dan gue ga mau ada persepsi negatif ttg MBJ ini yg bisa ngerusak acara yg udah kita bikin

    dan masalah ttg kalo lo ikt Pra-SAR trus kemudian lo nulis-nulis kyk gini, itu ga masalah deh
    bahkan bisa lebih objektif
    seengganya karna kalo lo ikut SAR, lo tau keadaan yg terjadi slama masa PRASAR itu gmana
    gue rasa anak2 bisa menerima tulisan lo ini

    kita emang bikin MBJ ini TANPA PAKSAAN DAN TEKANAN DARI PIHAK MANAPUN. bener2 murni keinginan kita sendiri

    gue setuju bgt sm komen nomer 43
    yg “lo boleh kritis, tapi jangan sampe kritis dalam arti lo sekarat gara2 mikirin hal2 kecil yang lo anggap bisa mambuat perubahan itu. coba deh pikir ke depannya juga. akankah menghasilkan feedback yang baik atau enggak”
    bener bgt tuh, nomer 43
    *laff u bebeh..
    cupcup muamua
    hehhehehehe….

    -ulie-
    kom ‘08

  2. Anonymous says:

    hoii,zan..
    gue salut banget sama lo. dimana lo itu berani untuk mengemukakan pendapat lo yang subjektif itu atas dasar perasaan (kaya cewek feminin dh..hehehehe) dan bukan pengalaman.
    lucu juga baca blog lo dan komen dari banyak orang ini..
    kalo lo aja bisa ngetawain masalah nama MBJ, gue (pribadi) jujur aja ngetawain lo..

    banyak hal yang orang lain liat(mungkin itu,lo) ga seperti apa yang lo liat..
    malu lah,zann (as we know..FAUZAN AL-RASYID is AGENT OF CHANGE) sama para pahlawan, sama IBU, GURU, atau siapapun yang lo sebut diatas sebagai orang berjasa itu, KALAU..sebagai manusia dan sebagai mahasiswa, kita HANYA pakai mata buat melihat..

    Tuhan kasih kita tangan buat ngeraba, telinga buat mendengar, hidung buat mengendus(menghirup), mulut buat berbicara, dan dua hal yang penting..OTAK BUAT MIKIR dan HATI BUAT NGERASAIN HAL-HAL BATINIAH.

    kalau lo bisa bilang esensi, penting dan ga penting MBJ, masalah nama “MALAM BALAS JASA”, senior dan junior, dan hal lain yang males buat gue sebutin..
    indera apa yang lo pake???

    yang pasti,gue yakinin satu hal, zan.. bukan OTAK DAN HATI. (sorry..)

    kalo lo denger, temen lo cerita MBJ, apa sih yang lo dapet?? gw tekankan..yang lo dapet CUMA CERITANYA aja,zan..ga lebih.
    apa iya, lo dengan jelas, pasti dan yakin perasaan temen lo itu apa??

    namanya temen ya,zan..harusnya sih bisa lihat sampai ke hal itu. (Saran gue niihh..)
    jadi pekalah..ga cuma pake mata tapi juga pake yang lain(terutama otak dan hati)
    ngebantu lo kok, supaya tidak lagi ada pandangan subjetif (terutama buak kita temen angkatan lo)

    gw stuju sama lo, setiap orang berhak buat ngemukakan pendapatnya..cuman disini gue konfirmasi aja. buat gue, pendapat yang dikemukakan hendaknya tidak lain dan tidak bukan mementingkan dirinya sendiri melainkan demi kepentingan orang banyak..
    toh, dengan adanya MBJ ini, gue yakin itu tidak merugikan lo..(bener dong bener khan???)

    gue inget banget lo,zan..kita bahkan masih seneng-seneng bareng disaat kita ngamen bersama buat dana MBJ (acara yang dipermasalahkan namanya ini)
    masa dirirmu begitu cepat melupakannya,zan??(hahahahhaha)

    gue menemukan ada ketidaksinkronan antara pemikiran, perbuatan dan perkataan..(just in my mind)

    gue menangkapnya sih ini hanya blog yang yaudahlah..dan gue rasa lo sebenernya pengen bangett-bangeettan ikut ke MBJ..hehehe.ntar kita kabarin kok.tenang aja..

    anteng-anteng aja sih jadi mahasiswa di UI..quitter yang lain aja pada diem,kenapa ada satu pemberontak ini??!!hahahaha*bercanda.
    yaaa ga maksud lebih..
    cuma pengen buka mata lo aja..jangan pake mata sipit kalau mau lihat dunia..(harusnya sih..jangan merem kalau mau lihat dunia).

    oia..gue tunggu perubahan apa sih yang bakal lo buat untuk diri lo sendiri dan untuk bangsa dan negara??GUE CUMA BISA WAIT AND SEE ya,zan..

    _INE aka TEPE komunikasi 2008 yang ikut pra-SAR dan SAR.yang tau gimana esensi dan arti MBJ. paling penting..yang nyari duit buat MBJ KOM 08 SUKSES*

  3. Anonymous says:

    @ INE : yoi mamen
    stuju aku sm kamu
    bener bgt tuh
    kita aja yg nyari duit biasa aja
    yg atu MONEY LOVERS yg atu MONEY ORIENTED
    ahahahahahhahaha…..

    -ulie lagi nih-

  4. Anonymous says:

    biar kata peribahasa aja,lii..

    biar fauzan menggonggong, khafilah berlalu..(hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha)

    *totally bercanda

  5. Anonymous says:

    oke lah zan, gw bingung mau ngomentarin gimana,,
    kalo menurut gw sih MBJ itu ada dua sisi,
    pro dan kontra.
    gw bukannya mau blg lo kontra terhadap mbj, tapi emang gitu kan kenyataannya??
    gw sih netral aja ga pro ataupun kontra. jujur gw kan non-sar tapi pernah ngerasain pra-sar dan sempet dapetin esensinya walopun ’secuil’ doank.

    dari sisi pro, gw setuju aja adanya mbj, coz emang senior ‘ada’ lah jasanya ama kita sbg maba .
    tapi di sisi kontra gw ngerasa ga terlalu perlu juga sih,
    kita semua tau lah tadi ada yg blg senior juga ga minta di ‘mbj’ in kok,
    mau d bikin sukur gag di bikin juga gapapa.
    dan liat sikon jg, lagi ga oke nih ekonomi dunia.
    masi banyak org yg masih kelaperan tiap hari tidur di emperan.
    tapi ’seneng-seneng’ macam gini ga mbj doank kan??
    banyak jg resepsi kawinan yg milyaran di tengah krisis,
    so, ga segitunya buruk kan mbj??

    tapi ya itu tadi, kalo menurut gw sih jalan tengah aja di ambil,
    semacem mbj dengan tujuan baksos, atau mbj scara sederhana ato kecil-kecilan, dll

    tp keren lah lo zan,
    you’re minor, but you’re not alone..
    khey .

    buat yg ga suka dgn postingan ini, gw ngerti kok perasaan kalian,
    tp gw jg tau maksud positif dari fauzan ini apa?
    jd jangan terlalu di ekspos jelek2nya aja,
    justru ini jadiin sbg sarana penyadaran diri kita semua apa yang salah dan apa yg bener
    (jadi ceramah gue) hahahahahaha

    by, ivan yg katanya anak kom, eza ..
    hhehe

  6. Anonymous says:

    cuman ingin sedikit membuka pandangan sekaligus berbagi pengalaman..

    emang sih disaat kita ikut suatu organisasi, perkumpulan, himpunan atau apalah dari awal sampe akhir (apalagi kalo melewati berbagai tahapan yang g ringan) trus ada komentar, apalagi dari ‘outsider’, tentunya pasti kita akan ngganggep ‘tau apa sih lo’, ‘lo g ngerti apa2′, ‘cobain dulu baru komen’ dan lain sebagainya..

    tapi bukan berarti mereka itu selalu salah..
    bisa aja kitanya yang telah ‘dibutakan’ oleh tahapan yang telah kita lewati..
    sehingga sadar tidak sadar membuat kita jadi primordialis (yang kalo g salah artinya mengagungkan kelompoknya sendiri. kalo salah dibenerin ya)..

    gw sendiri pernah ngalaminnya waktu SMA..
    gw ikut dalam satu organisasi ekstra kurikuler, gw ikut semua tahapan2 didalemnya, dari gw berstatus junior sampe jadi senior,dan dari sebagai adek kelas sampe punya adek kelas lagi..
    disaat itu (khususnya pas gw jd senior) gw ngerasa apa yg gw lakuin ke adek2 gw itu baik..
    ada tujuannya..
    bukan sembarangan..
    esensinya jelas..
    dan itu semua akan mereka sadari di saat mereka sudah berdiri menggantikan kami..
    banyak kritikan dari pihak2 luar, bahkan dari adek kelas gw sndiri tentang hal2 yang kami para senior lakukan..
    cuman ya gw berpikiran mereka itu g tau apa2..
    mereka g ngalamin apa yg gw dan temen2 gw alamin..
    mereka g ngerti apa tujuan dengan esensinya..
    gw menjadi primordialis..

    tp setelah gw tamat dari SMA..
    apa lagi gw udah 2 taon tamat (penting gtu disebut2)..
    setelah gw jauh dan g ada kontak lagi dgn organisasi gw..
    gw baru sadar kalo banyak cacat dari apa gw lakuin di organisasi SMA gw dulu..
    yang dulu gw anggap betul tetapi setelah gw lihat dari sisi luar ternyata salah..
    yg gw kira penting ternayta g ada gunanya..
    walaupun esensi dan tujuannya masih terliaht jelas, ternyata bukan begitu cara yang tepat..
    dan lain sebagainya..

    waaaahh..
    jd curhat nih..

    pokoknya intinya apa yang kita anggap bener belum tentu bener
    apalagi kalau kita terlibat jauh didalammya..
    dan belum tentu apa yang kita anggep salah itu salah..
    apalagi kalo kita g tau apa yang mereka lalui..

    mungkin karena itu banyak orang tua yang g mau anaknya dididik dengan cara2 kuno (seperti hukuman fisik dalam pendidikan) padahal mereka sendiri mengalaminya dan menjadi ‘berhasil’ karena cara2 itu..

    tentang MBJ sendiri gw masih netral kok..
    gw PW di posisi netral..
    heheh..

    ‘dariorangyanggmaudibilangsokeksis’

  7. Anonymous says:

    tentang cerita daun jambu nih..
    kalo ternyata pohon jamunya udah tua, kering, layu, uzur, kena nagin roboh, apa masih harus kita terusin??
    apakah bukan sebaiknya kita tinggalkan pohon yang lama dan bersama2 membuat benih baru??

  8. Anonymous says:

    hahahaha..
    yeah saya hanya ingin mengatakan bahwa pernyataan si mantan ketua bem hanya cukilan dari orang lain..

    coba luruskan saya mengenai interpretasi, persepsi, dan stimulus..
    jika menurut anda saya khilaf…
    bukankah anda sudah menagmbil pik dan psikokom..

    yayayayaya..,
    tulisan seperti ini yang membuat perdebatan meruncing ke dua kutub..

    tapi no problem..

    negara ini berdiri berdasarakan perdebatan panjang…

    hibup buruh dan tani…!!!

    ttd:calon pembunuh yang ingin membunuh orang-orang yang mengaku hebat

  9. hweh, makin banyak euy yang ngomen…

    well, Jan, yang gw maksud dengan tantangan gw itu ya sekedar tantangan aja. well, mungkin agak salah tempat juga ya gw ngajak lo di komen gw :p nevermind that lah… tapi beneran, cobain aja(ato lo mau liat gw nyoba dulu?).

    eniwei, yang pasti sih jan ya, tulisan lo ini sama sekali gak nunjukin kalo lo tu orang yang intelek. ini bukan tulisan orang cerdas. anak smp kampungan aja bisa nulis kayak gini. ini cuma tulisan orang yang protes tanpa sebab yang jelas, tanpa juntrungan, dan sekedar ngomong yang nyinyir.

    terus, emang yang akan selalu mengganjal dari tulisan lo ini adalah kenyataan bahwa lo gak ikut terlibat di proses yang lo kritisi itu. jadilah omongan lo gak akan didengerin. kalo mereka bilang lo gak tau apa-apa, mereka benar. sangat-sangat benar. gak seharusnya lo nulis tentang apa yang lo gak tau. itu cuma bikin lo tambah keliatan bego karena nyablak, ngomong tanpa mikir.

    sejak awal, tulisan ini gak seharusnya ada, apalagi di tempat publik kayak gini. isinya gak penting banget. cuma mempermasalahin nama. mungkin gw harus nanya kenapa nama lo fauzan al-rasyid padahal nama al-rasyid itu harusnya jadi nama belakang gw(hahahaha).

    terus, acara senang-senang yang lo ‘cela’ itu juga sebenernya gak perlu dicela(atau dikritisi, whatever u call it lah). selain lo berlebihan dalam ‘menasehati’ mereka agar sebaiknya lebih memikirkan rakyat kecil dibanding ngehedon(which is lebay dan sangat salah tempat), lo gak ada di sana, gak ikut kegiatannya, gak ngapa-ngapain selain ngeliat dengan mata lo yang dikaburkan sama ‘pemikiran kritis’(?) lo itu.

    lo kalah telak jan. saran gw sih, kalo lo nyadar atas kesalahan lo, mending lo bikin tulisan baru lagi(kalo nggak ya mending gausah).

    kalo lo masih berpikir bahwa lo benar, biar gw bilang aja kalo gak ada yang benar di tulisan lo ini.

    pertama, lo mempermasalahkan nama. ini gak penting sama sekali

    kedua, lo membandingkan balas jasa ke senior dan ke ibu, guru, dan para pahlawan. ini sangat-sangat lebay.

    ketiga, lo seenaknya ngomong tentang acara itu dan bilang acara itu hedon. lo gak tau apa-apa, lo gak tau prosesnya, jadi lo gak berhak ngomong tentang acara itu.

    keempat, lo ngepost di blog. ruang publik yang bisa dibaca siapa aja, padahal ini masalah internal. salah tempat lo ngomong kayak gini di blog lo(tapi thx karena gw jadi bisa ngritik n nyerang lo habis-habisan. hahahahaha.)

    ojaann… ojaaaannn… untung lo gak masuk seni rupa ya… lingkungan di sini sangat gak cocok dengan lo yang NATO(or at least itulah yang gw rasain di tulisan ini). gw akan sangat menantikan lo beraksi jan!

    setelah baca tulisan lo yang ini jan, untuk pertama kalinya, i look down on u. u’re pathethic. buat gw ngeliat lo tinggi lagi Jan! buat gw bangga lagi jadi temen lo! action, Jan! jadilah agen perubahan yang sebenarnya!

  10. Anonymous says:

    hhhaaa salut deh gue sma lo bisanya cuman ngritik sesuatu aja lo hahaha dari jaman sma kan lo ye? ckckck

  11. Nindy says:

    Kontroversial bgt nih! Haha. 1 kritikan gue, lo kbnykan pke kata “ya”. (waduh gk nymbung ya? Hehe)

  12. Anonymous says:

    isi blog lo kaga ada apa muji orang apa busetdah nyari ribut mulu CAPER amat. emang ga femes di FISIP ?

  13. Fauzan says:

    Tanggapan terhadap comment #51 (Ulie)
    Knp gw capek-capek mikirin MBJ? Hmm… entahlah, krn mungkin gw rasa emg ada sesuatu yg kurang “pas” di MBJ itu. Dan bnr bgt lie, gw sama sekali ngga ngerasa dirugiin atau direpotin dgn kegiatan MBJ ini kok, sama sekali ngga. Apa yg gw lakukan dgn membuat tulisan ini emg sekedar pemikiran gw, opini gw terhadap suatu kejadian-kejadian yg terjadi di sekitar gw, ya… setidaknya itu membuat gw lebih memperhatikan lingkungan gw, bukan sekedar kuliah-pulang-kuliah-pulang tanpa memperhatikan ada hal-hal apa aja yg terjadi di sekitar gw.

    Ini emang suatu hal yg sepele. Tapi justru jika dari hal sepele itu ngga ada yg menghiraukannya, bukan tidak mungkin bhw hal sepele itu bisa menjadi lbh besar (bhkn mungkin lbh bsr dr apa yg gw tulis skrg) suatu saat nanti. Emang sih, mslh nama, ya ampun, penting banget kayaknya?! Kalo dipikir-pikir kayaknya terlalu filosofis, ga penting banget. Ya mungkin menurut lo itu ngga penting, tp yakinlah bhw jgn pernah menganggap suatu hal terlalu ngga penting, krn bisa jd hal yg lo rasa ngga penting itu bisa menjadi sangat penting suatu hari nanti. Ya, hidup ini dinamis. Kita ngga akn prnh tau apa yg terjadi nanti terhadap hal-hal yg prnh skrg kita anggap sgt tdk penting :-)

  14. Fauzan says:

    Tanggapan terhadap comment #52 (Ine)
    Hehe, iya ne, gpp, emg rata-rata tanggapan org yg abs baca blog gw ini kalo ngga bingung, ketawa, ya emosi :-p
    Hmm… iya, bhkn gw pernah ikut ngebantu ngamen bareng buat nyari dana, bnr bgt. Dan jujur, gw lakuin itu jg dgn senang hati unt ngebantu tmn-tmn gw jg. Lagipula, gw rasa ngga salah kalo gw ngebantu, apa itu salah? Gw ngebantu ats dsr bhw yg gw bantu adlh tmn-tmn gw, itu yg ada di pikiran gw. Ketika gw ngamen bareng itu, gw ngga memasang pikiran bhw ngamen itu unt MBJ yg ckp gw permasalhkan namanya. Jadi, gw emg memasang mindset yg berbeda, dan itu bkn berarti gw ngga konsisten terhadap pikiran dan perbuatan gw.

    Hehe, ngga ne, tenang aja, gw ngga pernah berharap unt diundang ke MBJ kok, lagipula, seperti yg lo blg jg, gw rasa itu akn memperlihatkan ketidaksinkronan antara pikiran dan perbuatan gw kalo ternyata gw akhirnya ikt MBJ (sekalipun kalo menurut lo gpp). Ngga lah, itu acara kalian, dari kalian, oleh kalian, dan untuk kalian yg mengikuti rangkaian kegiatan Community sejak awal. Tentu gw sgt menghargai niat baik dan jg berterimakasih jika kalian mau ngundang gw ke acara MBJ, tapi maaf, gw ngga bisa ikut :-)

    Hmm… kenapa gw yg memberontak, sdgkn yg lain aja ngga? Ya, mungkin itulah gw, gw emg suka ngerasa ngga bisa diam dan memendam gitu aja apa yg ada di otak gw, jd gw hny mencoba unt mengungkapkan apa yg ada dipikiran gw lewat tulisan ini :-)

  15. Fauzan says:

    Tanggapan terhadap comment #55 (Ivan)
    Haha, biasa van, emg pas org-org baca artikel yg satu ini ada beberapa ekspresi yg dihasilakn, di antaranya: setuju, ketawa, bingung, kesel dan emosi. Hehe, jd kalo lo bingung mau komen gmn, itu wajar, hehe :-p

    Sbnrnya mslh yg gw angkat dari awal adlh mslh nama MBJ itu sendiri van (sangat filosofis bgs sih), smp akhirnya mslh ini berkembang menjadi pro dan kontra ttg diadakannya MBJ itu sendiri. Sekarang tinggal gmn kita menanggapi mslh MBJ ini dgn lbh bijak. Ya, tentunya bkn berarti gw merasa yg paling bijak, ngga gitu, tapi coba deh kita melihat masalah ini dari berbagai sudut pandang. Untuk tmn-tmn Kom ’08, yakinlah bhw dgn apa yg gw tulis di artikel ini akn membuat kita semua berpikir, ya… terlepas dari pandangan yg akan terbentuk mengenai gw yg mungkin semakin negatif dan minus di mata kalian, tapi gw harap dgn isu yg gw angkat ini bisa membuat kita semua lbh berpikir luas terhadap sesuatu. Makasih van udh komen :-)

  16. Fauzan says:

    Tanggapan terhadap comment #56 (Anonymous)
    Untuk komen yg lo berikan, gw ngga akn menanggapinya secara panjang, krn menurut gw itu bnr dan gw setuju dgn apa yg lo tulis. Pada dasarnya kita semua hidup berdasarkan tradisi yg berkembang dan terus dijalani. Namun, seiring dgn perkembangan zaman, tdk semua tradisi yg dulu dianggap benar kemudian bisa dianggap benar pula di zaman sekarang. Ada pergeseran-pergeseran nilai yg terjadi. Jadi, tradisi-tradisi yg diciptakan sejak dulu merupakan suatu hal yg diciptakan dgn pemikiran yg berkembang pada saat itu. Sekarang kita tinggal melihat dan mencerna, apkh dgn seiring waktu yg berjalan di tahun 2009 ini tradisi-tradisi itu masih tepat untuk dijalankan. Tentu kita harus menjawabnya dgn pola pemikiran kita sekarang, bukan melihat pada pemikiran zaman dulu. Dan mari kita melihat pada kebenaran. Makasih udh komen :-)

  17. Fauzan says:

    Tanggapan terhadap comment #57 (Anonymous)
    Nah, kalau emg begitu, tinggalkanlah pohon yg lama dan tanamkanlah benih baru yg ditanam dgn berbagai pemikiran dan ide-ide baru, serta dipupuk dgn logika dan akal sehat. Setelah itu, letakkan pot yg berisi benih tersebut di suatu tempat, tapi jgn lupa untuk melihat, tepat atau tidak tempat meletakkan pot yg berisi benih tersebut.

  18. Fauzan says:

    Tanggapan terhadap comment #58 (Anonymous)
    Wah tampaknya Anda semakin tidak jelas, hehe. Oh ya, maaf, semester ini saya tidak mengambil mata kuliah Psikologi Komunikasi, mungkin akn saya ambil di semester berikutnya :-)

  19. Fauzan says:

    Tanggapan terhadap comment #59 (Harun)
    Harun, kalo emg byk yg berpikir gw sangat tidak pantas mengkritik masalah ini krn gw ngga pernah terlibat di dalamnya, gw rasa itu berarti kitas semua harus kembali bercermin pada diri kita sendiri. Pernahkah kita mengritisi, menyalahkan, dan protes terhadap sesuatu yg kita ngga pernah benar-benar di dalamnya? Wah, gw rasa sering ya run… bhkn jgn-jgn hampir setiap hari. byk dari kita yg suka ngedumel, ngeritik, protes ttg kenapa begini dan kenapa begitu dan memberikan opini yg seolah menjadi acuan bahwa begitulah seharusnya. Byk yg menuntut ini itu dari orangtua, tp pdhl mrk sendiri ngga ikt merasakan gmn usaha orangtua untuk memenuhi tuntutan keluarganya, bukan cuma anknya. Bagaimana dgn pemerintah kita? Wah byk ya run… byk yg bilang pemerintah ga becus, pemerintah ini itu lah, byk yg negatif, wah pdhl kita sendiri ngga terjun dlm dunia pemerintahan itu, kita hanya mengamati terhadap apa yg terjadi akibat dari kebijakan pemerintah, kita ngga merasakan gmn rasanya memegang amanat yg besar itu, gmn rasanya mengatur jutaan manusia Indonesia yg kyk gini. Nah, skrg, bhkn dgn lo mengkritik gw seperti itu bisa aja gw balikin lagi run, bhw lo hny ngeliat gw dari tulisan ini tanpa tau proses yg gw alami, tanpa merasakan apa yg gw rasakan. Lo jauh di Bandung sana dan ngga tau apa-apa ttg kehidupan yg gw jalani di Depok. See? Bisa aja kan? Dan apa lo akan bilang gw lebay lagi dengan berkata seperti itu?

    Dan mengenai tantangan lo itu, run, gw rasa kita ngga harus smp seperti itu unt bisa bnr-bnr merasakan hal-hal itu. Bahkan Islam (maaf kalo jd bawa-bawa agama) ngga mengajarkan kita unt “menjadi susah” supaya kita merasakan kesusahan org lain, gw pikir malah itu namanya ngga mensyukuri nikmat yg diberikan, tapi yg harus kita lakukan adlh gmn kita bersimpati bhkn berempati terhadap mrk. Dari rasa simpati dan empati itulah nantinya akn timbul suatu perbuatan unt menolong org-org itu. Jadi ngga perlu sampe ngelakuin hal itu, karena ya alasan yg gw tulis di atas.

    Dan ketika lo blg bhw dgn nulis artikel itu ga menunjukkan bhw gw seorang yg intelek, ya… maaf run, dgn lo komen seperti itu pun ngga menunjukkan bhw lo lbh intelek jg dari gw. Ya kalo lo mau blg gw ngga intelek, atau org lain mau bilang apa ttg gw (seperti yg lo blg, gw jd tambah keliatan bego karena nyablak, ngomong tanpa mikir), ya… silakan, dan gw ngga akn mempermasalahkan itu :-)

    Hmm… oh ya, gw ngga kalah telah kok run, bhkn kalah aja ngga, hehe. Apapun yg terjadi gw akn ttp menang, menang dr, yg gw sebut sebagai, pemikiran-pemikiran gaya lama, hehe. Apa itu artinya gw adalah seorang yg berpikir modern dan yg lain ngga? Wah, kayaknya terkesan egois dan arogan ya? Ngga gitu, krn gw percaya bhw ada hal-hal yg harus gw perjuangkan, yaitu keyakinan gw terhadap sesuatu yg gw anggap benar. Dan lagipula, jujur, gw ngga ngeliat sesuatu yg sgt salah dari tulisan gw. Ya, bagi yg berpikir luas, tentu akn melihat apa yg gw tulis sebagai ide, gagasan, pemikiran, opini, atau jg bs sebagai kritik dan saran yg kemudian bisa menjadi suatu pembahasan yg dibahas dgn bijak. Tp bagi yg berpikir krg luas, tentu akn berpikir ini sebagai suatu kritikan pedas, kritikan dr seorang yg ngga tau apa-apa, bhkn mungkin cuma cari sensasi aja. Ya, ngga mslh, krn dgn begitu gw bisa melihat seperti apa pemikiran-pemikiran pemuda bangsa di zaman skrg ini dalam menanggapi suatu isu. Apakah isu tersebut akan ditanggapi dgn pemikiran yg jauh ke dpn dgn suatu pemikiran yg logis atau hanya pemikiran-pemikiran yg dilandasi emosi belaka? Semua itu akan terlihat.

    Makasih unt komen-komennya. Sukses ya run di ITB!:-)

  20. Fauzan says:

    Tanggapan terhadap comment #60 (Anonymous)
    Iya, sejak SMA. Krn gw percaya bhw dgn adanya kritik akn membuat kita lebih berpikir terhadap suatu masalah :-)

  21. Fauzan says:

    Tanggapan terhadap comment #61 (Nindy)
    Haha, iya ya nind? Yeh, namanya jg bahasanya sangat informal, haha, jd emang udh kecampur sama bahasa percakapan sehari-hari, hehe.

  22. Fauzan says:

    Tanggapan terhadap comment #62 (Anonymous)
    Haha, ada kok, tp ya emg bkn di artikel-artikel dlm blog ini, di blog gw yg lama ada kok (yg isinya memuji org, seperti yg lo pertanyakan). Bukan caper sbnrnya, tp gw cuma mengangkat suatu isu, tinggal gmn org-org menanggapinya aja :-)

  23. Anonymous says:

    untuk mas/mba yang bernama patung pancoran..
    dan komentator2 lainnya yang ngegunain kata2 ‘g penting’..
    gw cuman mo ngingetin lo semua satu hal..

    g semua yang lo anggap penting itu di mata orang lain penting..
    dan begitu juga dengan apa yang lo anggap g penting tapi di mata orang lain itu penting..
    lo nganggap tulisan fauzan ini g penting..
    tp gw nganggap komen lo lebih g penting lagi..
    jadi lo jangan pernah jadi ‘megalomaniac’ trus bisa nge-judge apa yang penting dan yang nggak penting..

    satu hal lagi..

    Suka berpikir
    Tidak membiasakan diri mengabaikan suatu kenyataan yang ditemukan, suka mencari jawaban pertanyaan why dan how tentang kenyataan itu.
    Merangkaikan suatu kenyataan dengan kenyataan lain, mempelajarinya,membuat dugaan, membuat interpretasi, membuat prediksi.

    dan

    Suka menulis (menuliskan apa saja) sesering mungkin
    Merekam (disampaikan kepada orang lain, ataupun tidak) kenyataan-kenyataan, atau kenyataan yang disertai dengan analisis. Biasa merekam (mencatat ataupun menuliskan) segala sesuatu yang dipandang perlu untuk direkam, kenyataan yang ditemukan sebagai pengalaman, gagasan yang terpikirkan, atau bahkan pertanyaan yang muncul tentang sesuatu.

    merupakan 2 dari beberapa hal prasyarat seorang penulis
    (Masmimar mangiang, Dosen mata kuliah dasar-dasar penulisan)

    sangat penting di jurnal (jurnal cetak khususnya)..
    tapi (mungkin) g penting di kalo di seni rupa..

  24. Anonymous says:

    pertama…gue mau crita dulu kalo gue butuh 20 menit yang panjang buat mutusin mau komen apa ga..?, tentunya karena 20 menit itu gue abisin buat ketawa gara2 ngebaca beberapa komen…hahaha terutama patung pancoran #60..dia bener banget…

    kedua…berhubung gue masih SMA, mungkin gw ga tau banget apa itu SAR, praSAR, atau MBJ.
    tapi satu hal yang gue pegang adalah keberhasilan hidup kita adalah ketika kita membuat mereka mengucap “ya” untuk kita, yang artinya i agree with you…,dan menurut gue itu belom lo dapetin.

    mungkin bukan karena isinya, tapi mungkin karena cara2nya yang salah…
    kayak mengolok2 tentang balas jasa pahlawan atau apalah itu, ditambah lagi lo bukan siapa2 di acara2 itu..kebayang ga kalo paradigma lo tentang acara ini tenyata beda banget kalo lo ikutin itu acara..?
    karena ga ada yang ga mungkin di dunia ini, coba deh lo terbuka dengan segala kemungkinan.

    saran gw kurangin deh ngritiknya, banyakin berbuatnya…kan katanya agen perubahan..

  25. @ojan
    Tanggapan yang menarik, Ojan. Dan seperti di tulisan lo, lo memperluas/memanjangkan masalah yang dibahas, padahal gw cuma pengen tau reaksi lo, dalam konteks kritikan lo atas acara itu. Maksud gw, kalo masalah ‘i don’t know u, u don’t know me, we don’t know them either’ ini diterusin ya gak akan ada abisnya.

    Thx to u, gw jadi berkaca lagi dan berpikir mungkin gak adil juga gw ngomen tanpa tau tentang lo dan acara itu. Semua yang gw tulis adalah berdasarkan asumsi(bahwa acara semacam itu tidak perlu dikritik seperti ini di ruang publik) dan pengalaman(gw mengalami kaderisasi yang keras-tapi-mantap-dan-berguna-serta-tak-tergantikan di sini, dan sebagai bagian dari kaderisasi, angkatan gw menganggarkan 10juta buat bikin acara Wisudaan senior-senior gw).

    So, let’s get to the details. I mean, gw pengen tau proses lo keluar dari community lo, apa yang melatarbelakanginya, serta perasaan lo dan pemikiran lo atas kaderisasi di fakultas/jurusan lo. Gw juga pengen tau ujung dari pemikiran lo. Perubahan seperti apa yang lo harapkan dari tulisan ini(dan aksi-aksi lo selanjutnya). Kayaknya gw butuh itu untuk menilai(dan gw pikir cerita tentang sesuatu/seseorang yang jadi anomali(?) kayak gini pasti menarik).

    Jadi, waktu gw bilang gw pengen tau ceria lo yang keluar dari community, I really mean it, Jan. See, pemikiran kita berseberangan. Mungkin aja gw salah dan bisa jadi lo bisa membenarkan pemikiran gw dengan membiarkan gw tau proses lo, apa yang lo alami sampe bisa nulis kayak gini, perubahan apa yang lo harapkan, benarkah perlu diubah, apa efeknya(termasuk efek samping) dari perubahan itu, serta mengapa lo menginginkan perubahan itu. Ini request pribadi gw: ceritain di postingan lo selanjutnya ya, Jan :)

    Dan, kalo boleh tau, selain nulis di sini, lo udah ngapain aja untuk ngelakuin perubahan di kampus lo?

    Terus, soal tantangan itu, kalo gak mau juga gak apa-apa. Gw cuma berpendapat bahwa itu seperti sit-up yang bisa membuat badan kita jadi six pack. Membaur dengan mereka akan mengasah kepekaan kita(dan gw percaya bukan cuma kepekaan sosial, tapi juga kepekaan dalam hal-hal lain).

    p.s: gw masih nganggep tulisan ini gak penting dan ngerasa lo berlebihan dalam mengomentari acara MBJ.
    p.s2: tulisan lo ngingetin gw sama kasus yang mirip di angkatan gw. mau tau? just ask..

    @Pak Masmimar Mangian
    wah, jadi tersanjung, komentar saya dikomentari sama dosen(dosen UI pasti bukan orang sembarangan donk). Hehehe…(apa sih harun..)

    Anda bijak sekali dengan menulis ‘g semua yang lo anggap penting itu di mata orang lain penting’(meskipun saya masih menganggap isi dari postingan ini tidak penting; yang saya anggap penting adalah keinginan saya untuk mengetahui informasi lebih jauh tentang motivasi Fauzan menulis ini).

    Saya jadi ingin tahu pendapat Bapak tentang tulisannya Fauzan ini(kalo bisa jangan terlalu pendek). Kalo Bapak sudah pernah komentar sebelumnya, harap beri tau soalnya saya males ngecek satu2 komentar2 sebelumnya.

    Terus, tentang 2 hal yang menjadi prasyarat seorang penulis(yang notabene cukup inspiring buat saya), kalo kata2 ‘menulis’ diganti ‘menggambar’, itu penting untuk seorang seniman. Mungkin perbedaannya adalah di Seni Rupa perlu ditambahkan ekspresi dan unsur-unsur estetis.

    duh, komen gw kepanjangan yak… ah yasudahlah

  26. Prada Kom 06 says:

    Aduh, ksian bgt ya.. Knapa sih hampir smua’a.. atau emang smua’a mojokin si penulis? Lah ini kan opininya dia.. yang emang dia tulis di blog’a dia sendiri… yang memang bersifat sangat subjektif.. ya biarkan lah dia melakukan apa yang dia mau.. Tiap orang punya preferensi sendiri koq akan suatu hal.. dan itu ga salah…

    Bagus banget dia udah bisa kritis akan sesuatu hal… toh apa yang ditulis disini tampaknya ga merugikan orang lain kaan… Think positif aja.. Kadang ada orang yang berpendapat tanpa benar-benar ngalamin apa yang kalian alamin.. itu terserah dia lah.. Ya kan Zan..

    Keep on writing yaa…

  27. Anonymous says:

    hhahaha..
    cuman mo nglurusin sesuatu nih tuk mas/mbak patung pancoran..
    anda slah sangka dengn menganggap yang nulis komen sblumnya adalah bang mimar (Masmimar Mangiang)..
    tapi saya (mahasiswa yang pernah dia ajar) cuman ngutip kata2 dia pas kuliah Dasar-Dasar Penulisan dulu..
    baca baik-baik dong..
    tp emang agak ambigu sih..
    heheh..

  28. Alia Nadira (ila/al) says:

    halo ojaann ..
    aduh2 gw basi bgt yaa kalo masih ngomentarin blog lo yg satu ini huhuu
    tapii gw jadi tergelitik liat begitu banyaknya respon yang didapat dari tulisan lo jan .
    gw sih gagmau komentar ttg mbj itu sendiri . banyak yang udah menjelaskan dengan baik kok tentang mbj yang jadi hot topic ini *tentunya dgn sudut pandang masing2 yaa :)
    gw cuma bisa mengambil kesimpulan bahwa inilah manusia. setiap orang membawa nilai-nilai dan keyakinannya masing-masing. setiap orang punya cara tersendiri untuk melihat suatu permasalahan. ibaratnya ketika kita melihat seekor burung, setiap orang pasti punya ketertarikan tersendiri terhadap fokus yang ingin mereka lihat dari seekor burung tersebut. ada yang fokus sama sayapnya, sama warnanya, sama paruhnya, sama cakarnya dan lain-lain.
    itulah manusia . dan hal ini terlihat sekali di komentar2 ini hehehe

    gw sih ngeliat secara keseluruhan, tulisan lo ini bagus kok, keep writing yaa !! tapii yaa mungkin sebelum menulis lo bisa memperluas dulu wacana yg mu lo omongin, seperti kata mba amel kita menulis harus netral, maka lihat dari berbagai sudut pandang :))
    gw dulu juga pernah rada2 mirip kaya lo gtu kok. tapii gw sekarang jadi jauh lebih netral. karena di atas langit masih ada langit :D

    gudluck jan !!

    ila(AL) komunikasi 2008

  29. ups. hahahaha… ternyata gw salah ngira, kirain dosen :p
    ah, iya, ngomong2 saya cowok.

    eh, Jan, tulisan lo ini udah mulai dingin nih. mending lo posting lagi yang baru. misalnya tentang alasan lo keluar dari community lo itu… i’m so damn curious ’bout that.

  30. Anonymous says:

    kalau begituh baca saja buku mengenai persuasi untuk memahami apa maksud saya..
    hehehehehehe..

    “TTD: calon pembunuh”

  31. njay says:

    hi ojan.. (hahah sok kenal banget gw)
    well, gw merasa tulisan yang lo buat interesting, walau banyak yang bilang lo gatau rasanya prasar sama sar, subyektif, lo mau cari perhatian atau pamor, dan lalalalala lainnya.
    gw sinjay kom 2007 yang ikut semacam prasar susulan dengan nama ‘masa bimbingan’ karena yaa mungkin lo dan angkatan lo juga udah denger apa yang terjadi sama angkatan gw.
    untuk masalah MBJ gw juga sebenernya setuju dengan lo kenapa namanya mesti Malam Balas Jasa, dan gw juga tau pasti ujung2nya jawabannya tradisi atau apalah arti sebuah nama. gw juga setuju bahwa nama acara dan esensi harus related atau berkaitan.

    sejauh ini gw memang cukup merasakan esensi dari prasar yang katanya mempererat hubungan antar angkatan maupun senior. somehow, it’s true in some kind of way. but, (lagi2 setiap hal pasti punya positif negatif kan?) jujur gw masih, hmm, apa ya mungkin kurang rela karena angkatan gw 2007 yang dianggep oleh senior secara sah/HMIK cuma setengahnya, atau tepatnya 47 orang. meskipun secara personal ya tetep aja hubungan yang non masa bimbingan (mabim) itu tetep baik dengan senior2, at least yang masih ada di kampus, sekitar angkatan 2004-2006, bahkan ada yang kenal sampe angkatan 2000 atau di atasnya karena ketemu di mana atau sodaraan.
    jadi yang ada di otak gw kurang lebih begini, selama kurang lebih 2 semester angkatan gw bisa dibilang berdiri atau berjuang sendiri tanpa dianggap (meski lagi2 secara personal gw yakin dan tau oknum2 senior masih ada yang memperjuangkan mati2an angkatan 07 dan membela serta menganggap keberadaan angkatan gw, tapi ada juga yang udah males dan risih sama 07nya), terus akhirnya kita dikasih acara mabim yang esensinya seperti prasar (thanks for the thing though) meskipun dalam proses menuju mabim itu angkatan gw telah melaksanakan berbagai macam hal yang honestly, gw pun cukup merasa lelah sekali, tapi ya selama itu udah berhasil dilewati angkatan gw (96 orang) berarti we were able to do it kan? namun pada akhirnya, ada satu kondisi yang dihadapkan ke angkatan gw yang menyebabkan akhirnya cuma 47 orang yang dianggap angkatan secara HMIK, secara teknis aja, bukan personal.

    mungkin lo bertanya, apa yang terjadi sama angkatan gw selanjutnya?
    sejauh pengamatan gw, we are all fine each other. setiap angkatan pasti punya peer group kan? meskipun mereka di prasar secara pure tradition tanpa halangan, atau model angkatan gw (gatau mau kasih nama apa buat prasar model angkatan gw, hehe). hubungan intra atau antar peer group itu pun berjalan baik, gada pengkelas2an antara mabim dan non mabim. kenapa? karena angkatan gw, 2007, lagi2 menurut pendapat pribadi gw, udah pernah merasa berjuang bareng2 selama kurang lebih 2 semester awal itu, berjuang untuk tetep ikut prasar? berjuang untuk tetep eksis? berjuang karena ikut2an? terserah. bener kata lo jan, setiap orang lagi2 punya hak untuk menentukan sikapnya masing2.

    my personal thought about the initiation thing, hmm, itu memang bukan suatu hal yang mudah atau bisa begitu aja dihilangkan, tapi mungkin bisa dilakukan sedikit perubahan yang gw mungkin belom bisa bilang idealnya gimana. bener banget bullshit kalo PA atau orang2 departemen yang menjanjikan iya nanti kita kesana kemari kesitu liat ini itu ono, jadi ga usah ikut prasar ya.. meskipun nantinya ada mata kuliah macam MMM yang akhirnya lo di semester 4 ini baru main ke trans tv, padahal katanya kalo prasar normal lo udah bisa ngerasain di awal2. yaa gw juga gatau, prasar gw kan prasar special yang masih dipertanyakan diri gw seberapa penting esensinya, karena gw merasa tidak begitu banyak efek yang terjadi setelah mengikuti acara itu. yaa mungkin gw masuk kategori orang bebal yang tidak bisa ditempa hanya 6 hari tidak seperti prasar normal yang 6 bulan.

    hmm, maaf kalo tulisan panjang gw masih ga berbobot padahal udah tua, hahahaha.
    skill menulis gw memang ground zero, dan harus banyak belajar, tapi gw merasa tergelitik (alah) untuk comment di post yang ini. jarang lho gw comment panjang2 hahahaa..
    berarti tulisan lo menarik, salam kenal anyway, hehehe =)
    oiya, gw harap angkatan 2008 menganggap angkatan 2007nya tetep 96 orang ya.. hehehehe.. thankie..

Leave a Reply