Saturday, July 25, 2009

Hei Kalian yang Berjas Abu-abu!

Hai Sekra! Apa kabar? Pertama gw ucapkan selamat atas keberhasilan program kerja kalian, Cakrawala. Walaupun di H-1 terjadi ledakan bom di Hotel Ritz Carlton dan J.W. Mariott, Cakrawala tetap berjalan dengan sebagaimana mestinya di Hotel Nikko. Selamat ya!

Hmm… kali ini gw mau sedikit cerita aja. Kayaknya di blog gw yang ini, gw belom pernah nulis-nulis tentang kalian, hehe… Ya, Sekra, ngga terasa kalian sudah berada di penghujung masa kepengurusan kalian dan ngga terasa kayaknya udah setahun gw dan kalian saling kenal. Dulu pas kalian masih jadi cacapsis (sampe sekarang gw masih ketawa kalo denger istilah “cacapsis”, haha), sampe resmi jadi capsis, dan sekarang, kalian udah selesai menyelenggarakan suatu acara yang sangat luar biasa. Gw juga masih inget pada saat-saat pertemuan pertama kita dulu, mukanya masih pada tegang, padahal muka gw ngga ada muka galak ya, haha. Ya, mulai dari sesi cerita-cerita, atau lebih tepatnya sesi bergosip, sampe ngeliat si Rifqi bikin yel-yel yang bener-bener bikin gw geleng-geleng ngeliatnya, haha. Tapi satu hal yang cukup gw sayangkan adalah, gw ngga bisa ngeliat orasi cakapo dan cawakapo. Gw waktu itu lagi ada kegiatan OBM (Orientasi Belajar Mahasiswa) di kampus, jadi ngga bisa ditinggal. Waktu itu pun gw inget, sempat ada kabar bahwa akan ada “pengulangan” kejadian ngga intelek (istilah gw) pada saat orasi, tentunya berhubungn dengan cakapo dan cawakapo. Selama hari itu juga, dari pagi sampe siang, bahkan satu hari sebelum orasi, gw udah contact anak-anak MPK Olympus untuk jagain kalian karena gw ngga mau dan gw khawatir kalo sampe ada satu aja anak capsis yang “dicomot” sama kelompok the you know who. Tapi gw sangat bersyukur karena pas sekitar jam 2 siang gw sampe di sekolah, semuanya aman, dan saat itu juga gw udah dengar kabar bahwa Rifqi dan Rafie yang menang.

Ya, selagi gw mengetik ini semua, gw pun berpikir, kayaknya gw sangat peduli dengan kalian semua. Kenapa ya? Dan kenapa harus begitu? Padahal gw bukan siapa-siapa, ya… let’s say, gw cuma anak Amazon biasa, anak kelas XII biasa yang kebetulan sih dulu pernah ikut capsis, tapi gw sama sekali ngga pernah merasakan jadi seorang P.O., atau tergabung dalam organisasi apa pun di sekolah, dan gw lebih menyebut diri gw sebagai seorang independent. Padahal ada P.O. Rastra yang akan kalian gantikan, dan juga ada mantan P.O. Zazka, tapi kenapa gw sampe mau segitu pedulinya dengan kalian? Haha, gw sendiri ternyata juga bingung. Kenapa ya? Ya, gw hanya ingin berbagi pengalaman. Karena ada banyak hal yang sempat “terputus” di P.O. Rastra, jadi karena gw udah berada di tahun terakhir di SMA, gw merasa harus meluruskan beberapa hal, yaitu dengan cara ketemu kalian semua. Ya, ada banyak hal yang gw kasi tau ke kalian sewaktu kalian jadi cacapsis yang tidak diketahui P.O. Rastra, dan gw kira sangat penting bagi kalian untuk tau berbagai kebenaran yang memang sebenarnya terjadi.

Ya, sekali, dua kali ketemu, mungkin gw ngerasa biasa aja, tapi lama-lama gw merasa bahwa kalian adalah orang-orang yang menyenangkan. Jadi, selamat, kalian adalah orang-orang yang sangat loveable. Semakin sering gw ketemu kalian, timbul sebuah harapan dari gw bahwa kalian bisa menjadi P.O. yang lebih baik. Dan gw tetap berharap seperti itu. Kenapa? Padahal toh gw juga udah lulus saat kalian menjabat. Gw udah bukan lagi anggota OSIS SMA Negeri 81. Ya, karena gw melihat sesuatu yang berbeda dari kalian semua. Gw melihat bahwa kalian bisa membawa perubahan baru dalam organisasi kesiswaan di sekolah. Haha, tapi tetep aja ya, masih mikirin aja deh gw.

Tapi kalian juga harus tau, bahwa apa yang gw lakukan ke kalian waktu itu juga sebenarnya ngga 100% bagus untuk kalian. Kenapa? Karena secara ngga langsung, gw membuat pandangan kalian seperti pandangan gw, gw membuat pemikiran kalian seperti pemikiran gw (walaupun gw ngga pernah minta begitu), dan itu membuat gw merasa seperti Mabul (kalo kalian inget). Waktu itu posisi kalian berada di tengah, di antara gw dan tentunya P.O. Rastra sendiri, yang jelas-jelas waktu itu hubungan gw dengan mereka lagi kurang bersahabat. Ada dua pemikiran yang kayaknya masuk ke kalian. Ya, kalian yang masih baru dalam dunia organisasi sekolah, tentunya ada rasa bingung, mana yang harus didengar. Gw tau, bahkan kalo kalian mau ketemu gw, pasti main sembunyi-sembunyi dari P.O. Rastra, hehe. Ya, tapi gw sadar, bahwa apa yang gw lakuin waktu itu ngga semuanya bagus untuk kalian. Dan bahkan sekarang, setelah gw bener-bener ikut organisasi di kampus, gw sadar bahwa ada beberapa hal yang waktu itu gw anggap benar dan gw jelaskan ke kalian, tapi ternyata ngga begitu. Ya, waktu itu gw bukan orang organisasi, dan seharusnya ngga lebih sok tau dari mereka yang berorganisasi. Tapi, ya, itu pun sekarang jadi pembelajaran buat gw. Makanya gw ngga pernah mau ikut campur dalam hal apa pun tentang organisasi kalian (kecuali kalian yang minta), bahkan ketika Happy pernah minta saran untuk nama angkatan bawah, gw ngga begitu menanggapi dengan serius, karena gw mau semua hal yang berhubungan dengan kerja kalian, bener-bener berasal dari kalian, bukan dari pikiran orang lain. Gw ngga mau kalian seperti beberapa P.O. yang pernah “dikendalikan” atau ya… sorry to say, Mabul, dan juga salah seorang dari P.O. Dhyasta.

Dan see, kalian bisa dan gw selalu salut dengan proker-proker kalian. Gw sangat sering cerita tentang kalian ke teman-teman Amazon gw. Gw pun beberapa kali datang ke acara kalian, seperti BBB yang menurut gw sangat inovatif dan yang terakhir di Enternition selaku juri. Dan ngga cuma itu, setiap kalian ada acara atau akan ada acara apa, paling ngga gw pasti nanya ke salah satu dari kalian, entah lewat SMS atau media apa pun (biasanya kalo ngga ke Manda, ya ke Happy), itu karena gw mau memastikan bahwa gw ngga salah berharap dengan kalian. Kenyataannya? Buat gw, kalian semua memang membanggakan walaupun gw bukan siapa-siapa kalian.

Ya, semua udah hampir selesai, dan sekarang tiba saatnya kalianlah yang membimbing adik-adik kalian. Mudah-mudahan kalian bisa menjadi inspirasi bagi adik-adik capsis kalian untuk bisa lebih baik dari kalian. Dan jangan buat mereka berpikiran sama seperti kalian, tapi cukup buat mereka paham dengan pemikiran kalian, sehingga hingga pada saatnya tiba nanti, mereka bisa menentukan arah mereka sendiri. Biarkan mereka berpikir dan berkreasi sesuai dengan diri mereka.

Selamat ya Sekra, kalian semua hebat! Gw bangga dan akan selalu begitu. Gw akan selalu jadi orang pertama yang mendukung kalian. Bukan karena gw dekat dengan kalian, tapi karena gw percaya pada kalian semua. Oh ya, makasih karena udah menggunakan “Nulla dies sine linea” sebagai slogan kabinet kalian, gw sangat tersanjung ketika tau bahwa kalian menggunakan kata-kata itu. Thank you!

Satu hal lagi, gw udah melihat kalian untuk pertama kalinya mengenakan jas abu-abu itu pada tanggal 17 Agustus 2008, dan waktu itu gw menyaksikan prosesi pelantikan kalian dari lantai 3 sambil merekam dengan kamera ponsel gw. Betapa waktu itu gw sangat senang dan bangga ketika kalian akhirnya udah berjas abu-abu. Padahal waktu itu sebenernya gw harus ikut upacara 17 Agustus di UI, tapi demi ngeliat kalian dilantik, gw bolos dan ke sekolah. Karena gw udah melewatkan orasi, gw ngga mau melewatkan acara pelantikan. Dan see, gw akan selalu ada untuk memberi semangat dan berada di tengah-tengah kalian. Nah, begitupun untuk 17 Agustus yang akan datang, Insya Allah gw pun akan hadir di tanggal yang sama di tahun ini untuk menyambut kalian dan adik-adik kalian. Selamat menempuh akhir masa jabatan dan akhir masa-masa SMA kalian, semoga kalian sukses, dan doa gw, semoga kalian bisa diterima di PTN-PTN yang kalian inginkan. Amin.

Hei kalian yang berjas abu-abu! Tetap semangat dan banggalah karena kalian adalah Pengurus OSIS Netradhiira Pattvisekra.
Posted by Fauzan at 02:28:09 | Permalink | Comments (1) »

Friday, July 24, 2009

Mengenang Zaman Friendster

PROLOG

Sebelum “wabah” Facebook menyebar ke hampir seluruh pelosok dunia terutama di Indonesia, ada satu situs jejaring sosial yang lebih dulu “mewabah” di Indonesia, yaitu situs Friendster. Ya, situs ini sempat sangat popular di zamannya, ya lebih kurang sejak tahun 2005-an sampai dengan sekitar pertengahan 2008. Pengguna situs pertemanan ini rata-rata adalah para remaja usia 13 – 20-an tahun. Namun, di bulan Agustus 2008, menurut pengamatan saya, banyak orang yang sudah mulai beralih ke situs Facebook hingga sampai saat ini Facebook benar-benar menjadi salah satu situs terpopular di dunia, khususnya di Indonesia, sementara Friendster kini mulai ditinggalkan.

Saya sendiri dulu sempat menjadi salah satu pengguna setia situs Friendster hingga akhirnya kini saya pun telah beralih ke Facebook dan meninggalkan akun Friendster saya. Alasannya selain karena… ya saya rasa kita semua tahu sekarang ini “isinya” orang-orang yang di Friendster adalah tipe-tipe orang yang seperti apa, tapi juga karena situs Facebook menawarkan fitur-fitur yang lebih inovatif dibandingkan dengan situs-situs jejaring sosial lainnya, seperti Friendster misalnya.

Mengenang Dunia Friendster
Nah, setelah lama tidak membuka akun Friendster, tadi siang saya iseng membuka profil saya untuk sekedar melihat-lihat comments apa saja yang masuk selama saya meninggalkan Friendster tersebut. Ternyata tidak ada comments baru yang masuk, tapi kemudian saya iseng melihat isi comments terdahulu saya yang ternyata mencapai 2.011 halaman (satu halaman ada 10 comments, artinya ada 20.110 comments yang masuk selama saya ber-Friendster). Karena kebetulan di rumah lagi ngga ada kerjaan (dibilang ngga ada sih sebenarnya ngga juga, cuma lagi ngga mood), akhirnya iseng-iseng saya meng-explore seluruh comments yang ada sejak pertama kali saya ber-Friendster.

Ternyata dengan melihat semua comments yang ada membuat saya kembali teringat dengan kejadian-kejadian di masa lalu, khususnya masa-masa SMA. Mulai dari berbagai curhatan, gossip-gosip, berbagai macam konflik, adu argumentasi, cerita-cerita konyol, publikasi diri (haha), dan masih banyak lagi. Nah, dari semua comments yang masuk ada beberapa orang cukup sering berada di comments box saya, dan mereka itu adalah orang-orang yang telah banyak memberi warna dalam kehidupan saya selama ini. Di bawah ini adalah sekilas tentang mereka (nama-namanya ditulis secara ascending).

► Amalia Septyani
Atau sebut saja Amel, dia adalah adek kelas gw di SMA, tapi gw lebih suka menyebutnya sebagai salah satu sahabat gw. Ya, Amel juga temen curhatan gw, atau juga sebaliknya. Amel juga temen tempat gw mengeluarkan jayusan-jayusan gw yang garing sih sebenernya (haha), tapi kayaknya dia tetap tertawa (ya kan Mel? hehe). Ya, baik gw maupun Amel saling menjadi konsultan di bidang asmara dan percintaan, jadi udah pasti curhatan gw ke Amel atau sebaliknya ngga akan jauh-jauh dari masalah kisah asmara, haha.

► Amanda Fajrina Fitri
Ya, Manda ini adalah temen gw, sepupu, saudara gw, ya, apa pun itu, tapi dia adalah tempat gw curhat dan menggila. Kayaknya hal-hal bagus sampe yang paling aib tentang gw dia pasti tau, mau ngomong hal-hal yang aneh-aneh dan “aneh-aneh” bisa gw ceritain ke dia. Gw sangat bersyukur punya sepupu yang bener-bener seumuran, sementara sepupu gw yang lain masih sangat kecil, jadi kalo mau curhat apa aja pasti nyambung, dan ya… dia adalah seorang yang sangat baik dan peduli (dan ternyata comments dari lo cukup banyak, kayaknya banyakan lo yang curhat deh daripada gw!).

► Aruga Perbawa
Inilah salah satu orang yang paling muka tembok yang pernah gw kenal. Aruga atau Uga panggilannya adalah sahabat gw sejak SD (dan sampai sekarang) yang dari dulu bercita-cita menjadi seorang komikus. Ya, baik Uga maupun gw dulu ketika SD saling berlomba membuat komik, haha, ya walaupun gw tau bahwa gambar dia jauh lebih bagus daripada gw (dan sangat bagus untuk anak semuran dia waktu itu), gw tetap membuat komik (walaupun akhirnya gw jadi males bikin juga karena punya dia lebih bagus dari punya gw, haha). Ya, itulah Uga, salah seorang yang sangat ajaib menurut gw. Dari seorang Uga, gw mendapat banyak inspirasi dalam hidup gw.

► Ayuriza Fitrianah
Ya, ada banyak “Ayu” yang gw kenal, dan salah satunya adalah Ayuriza. Ayuriza adalah adalah adek kelas gw, seumuran adek gw, jadi bener-bener adek lah ya. Ya, Ayu, atau kadang gw manggil dia dengan sebutan “Adek” juga temen baik gw. Pokoknya kalo gw lagi ngga ada kerjaan dan insomnia di malam hari (dan gw punya pulsa), gw biasanya ber-SMS-an dengan dia (atau kadang nelpon sampe kuping bener-bener panas atau ngga handphone sampe lowbatt), karena dia pasti belum tidur, dan kalo gw tanya, “Yu, kok belom tidur?” pasti dia jawab, “Hah? Tidur? Ini mah masih siang Kak!” (padahal udah hampir jam setengah 12 malem), tapi emang efeknya kalo udah malem biasanya obrolan makin ngga jelas, hehe.

► Bramanto Wicaksono S.
Ini dia sahabat gw di SMA dan masih sampai sekarang. Bung Bramanto sebagai teman tempat gw belajar matematika, ekonomi, dan segala pelajaran kalo gw lagi kesulitan sewaktu SMA. Bram juga tempat gw ngobrol berbagai macam hal, khususnya masalah social, politik, dan MotoGP tentunya. Bram adalah orang yang sangat baik, peduli, dan juga sangat menyukai lagu-lagu grup band asal Inggris. Ya, gw sangat bersyukur bisa kenal dengan Bram, sangat bersyukur pas kelas XII dulu Bram jadi chairmate gw, alhamdulillah jadi ketularan pinter juga, hehe. Thanks Bram!

► Fina Ardyarini Alamanda
Fina adalah teman seperjuangan sewaktu gw menjadi Capsis (Calon Pengurus OSIS) di SMA. Ya, walaupun pada akhirnya gw ngga bergabung dalam kepengurusan OSIS, tapi Fina tetap menjadi temen ngobrol gw dalam berbagai hal, terutama dalam masalah keorganisasian di sekolah. Ya, Fina juga tempat gw bertukar pikiran dan pendapat, terutama saat gw memutuskan untuk memilih “jalan” gw setelah pemilihan calon ketua pengurus OSIS, dan saat-saat “panas” gw dengan sekelompok orang perihal masalah blog gw yang sangat kontroversial waktu itu, hehe (pastinya lo tau apa yang gw maksud, Fin, hehe).

► Harun Suaidi Isnaini
Nah, satu lagi manusia “ajaib” yang juga teman gw. Namanya Harun, seorang anak cowok yang gw sendiri, sebenernya, agak susah harus mendeskripsikannya seperti apa, tapi yang jelas kalo inget Harun, gw pasti inget blognya. Kenapa? Soalnya berbagai posting-an di blognya, gw rasa cukup unik. Ada suatu ciri atau karakter yang kuat dalam setiap posting-an di blognya Harun, terutama masalah bahasa yang dia gunakan dalam menulis. Ada yang lucu, aneh, mengkritik, cerita, macem-macem sih, tapi dari semua posting-an itu pasti akan terlihat jelas satu karakter Harun, dan gw rasa itu salah satu yang pasti gw inget dari Harun. Dan oh ya, pastinya, Harun identik dengan laptop dan kamera, hehe.

► Imel Ikhsania
Ya! Ini dia, orang yang selalu gw panggil dengan nama “Jeng Imel” (nama lengkap lo apa sih?), dia adalah orang yang sangat memotivasi gw supaya bisa diterima di UI, dan gw sangat berterima kasih karenanya. Dia adalah orang yang mengharuskan gw bisa masuk UI, dan alhamdulillah, sekarang gw di UI (thanks Mel!). Tapi, haha, Imel juga teman menggila gw selama di SMA, teman bergosip, teman seprofesi dalam bidang musik, dan satu-satunya senior yang bisa gw “zalami” ya cuma dia, haha (kapan lagi coba?). Ya, tapi karena si Imel ini gw pun bisa banyak kenal dengan anak-anak angkatan Atlantis juga. Oh ya, baik gw maupun Imel sangat gemar ngecengin satu sama lain. Awas lo Mel! haha.

► Intan Syaw’dini Paramasari
Entah gimana dan sejak kapan gw mulai deket sama Intan, gw lupa, tapi yang pasti dia resminya adalah adek kelas gw pas di SMP, tapi karena dia ikut kelas akselerasi, jadilah kita sama-sama lulus bareng, jadi seangkatan lah ya. Gw sama Intan emang ngga satu sekolah pas SMA. Gw di 81 dan dia di 61. Tapi biar ngga satu sekolah, baik gw maupun Intan tetap saling cerita tentang berbagai hal. Dia orang yang sangat baik, sangat perhatian banget ke semua orang, dan juga ke gw. Sekarang Intan di FKM UI, ya walaupun sekarang sama-sama satu kampus, tapi gw udah sangat jarang berkomunikasi sama dia, kayaknya dua-duanya sama-sama sibuk, hehe. But she’s still one of my best friend ever.

► M. Arditama Febrianza
Yang satu ini, Arditama atau akrab disapa Aldi a.k.a.Meong adalah teman seperjuangan gw juga. Ya, kayaknya baik gw maupun Aldi sama-sama menganggap bahwa kami berdua adalah rival, hehe, ah, tapi gw ngga mengaggap lo sebagai rival kok Di, masa lo tetep mengaggap gw sebagai rival lo? Hehe. Ya, “my beloved rival” kata Aldi. Gw dan Aldi dulu adalah dua calon ketua pengurus OSIS sewaktu SMA. Dua orang dengan kepribadian yang berbeda, visi misi yang jauh berbeda, dan tujuan yang berbeda pula, tapi itulah pemilihan ketua OSIS “terpanas” sepanjang sejarah SMA 81 (ya kan Di?). Hehe, ya sampai kelas XII, biar katanya “rival”, tapi gw dan Aldi tetap berteman dengan sangat baik, bahkan sekelas (siapa ya yang minta pindah kelas?). Ya, seengganya Aldi juga tempat gw ngobrol masalah politik keorganisasian siswa di sekolah, dan gw juga belajar banyak dari Aldi. Satu hal yang juga ngga akan gw lupa, orang ini sangat berbakat menjadi koreografer dan juga dalam hal mendekorasi, haha.

► Nindya Arini Bangun
Pertama kali gw kenal Nindy itu di Friendster, sekitar bulan September atau Oktober tahun 2007, gw lupa, (dia setahun di bawah gw) tapi yang jelas dari semua orang yang bener-bener gw kenalan lewat Friendster, cuma sama Nindy yang gw bener-bener jadi temen, dan bahkan lebih dari itu, dia sekarang juga sahabat gw. Ya, berawal dari latar belakang yang sama, seorang violinist, dan ternyata dia juga udah cukup “akrab” dengan SMA 81, hingga akhirnya tiap ngobrol sama dia selalu asik. Gw dan Nindy punya beberapa kesamaan, salah satunya berbintang Leo, haha, ya, kayaknya kita berdua percaya kalo ngobrol sama orang yang sebintang pasti nyambung. Dan kalo ngomong masalah biola, gw dan Nindy juga sama-sama banci tampil! Hei Nindy, kita belom pernah berduet (kayaknya ngga jadi-jadi deh)! Hoho.

► Nur Afifa Amalia
Awalnya karena gw deket sama sahabatnya, Shanti, akhirnya gw jadi kenal sama dia. Ya, Viva, yang juga anak IPS, adalah temen baik gw juga. Dia juga sebenernya adek kelas gw, tapi gw lebih senang menyebutnya sebagai teman gw. Dia orang yang baik, menyenangkan, dan juga sangat pintar, terbukti dengan diterimanya dia di jurusan Manajemen UI lewat jalur SIMAK-UI dan juga HI UGM jalur UM-UGM, sangat luar biasa, ya… dua jurusan itu adalah jurusan yang tidak mudah untuk didapatkan oleh semua orang (walaupun akhirnya dia milih Manajemen UI, good choice!). Menurut gw, dia orangnyaeasy going dan asik diajak ngobrol, tapi agak susah kalo di-SMS, entah kenapa sering banget SMS gw pending kalo ngirim SMS ke dia, ckckck. (oh ya, nama depan lo pake “Nur” kan ya?)

► Sita Novitasari
Nah, yang satu ini, hmm… Sita atau si cewek dodol (kata dia loh!) adalah salah seorang yang pernah “mengisi” hari-hari gw dulu sewaktu SMA, ya, kata “mengisi” dengan tanda petik tentu bisa kalian tafsirkan sendiri maknanya, hehe. Ya, walaupun ngga lama dan sekarang keadaan udah berbeda, dalam artian, ngga seperti dulu lagi, baik gw dan Sita tetap berhubungan dengan sangat baik, setidaknya gw cuma bisa curhat hal-hal yang bikin gw sedih bahkan sampe meneteskan air mata, cuma ke dia. Ya, bukan berarti dia hanya menjadi tempat gw berbagi kesedihan, ngga, cuma karena gw ngga bisa cerita hal-hal yang bikin gw sedih ke semua orang, dan setidaknya sampai saat ini, gw selalu merasa nyaman dan gw ngga pernah ngerasa malu atau apa pun ketika gw harus menceritakan kesedihan gw ke dia. Sita adalah seorang yang sangat baik, tapi kadang suka konyol juga. Dodol adalah kata-kata favoritnya, haha.

► Widya Prapti Pratiwi
Jeng Wiwidhe adalah the best partner ever! Dialah sahabat gw yang paling bisa bikin gw ketawa ngakak, kalo kata Citra, ketawa kayak setan (astaghfirullah), sahabat tempat gw bergosip ria dan curhat pastinya, sahabat tempat gw berlatih dan menambah kosakata bahasa Indonesia gw, haha. Luar biasa! Dia juga orang yang sangat pintar, terutama dalam hal Fisika! Sungguh menakjubkan. Di saat anak-anak IPA banyak yang “mengutuk” Fisika, tapi Wiwidhe adalah seorang wanita perkasa (kata Pak Suryo) yang mampu menaklukkan Fisika! Ya, itulah dia, karena orang seperti Wiwidhe sangat sedikit di dunia ini. Berbagai persekutuan telah gw dirikan bersama Wiwidhe, yaitu Persekutuan Racun Dunia (bahkan sebelum The Changcuters ada), dan yang tidak terlupakan: SFC (S***O Fans Club) sebagai bentuk apresiasi kami berdua terhadap sang pengajar yang luar biasa “jenius”! Haha, Widh, anggota SFC ngga nambah-nambah nih!

EPILOG
Ya, itulah mereka yang rata-rata paling banyak nulis comment di Friendster gw waktu itu. Mereka adalah orang-orang yang udah mewarnai dunia gw di Friendster dulu sampai saat ini. Tentunya masih ada banyak orang lagi, tapi ngga mungkin gw tulis satu per satu (dan gw deskripsikan satu per satu juga). Kini Facebook telah menjadi sebuah fenomena dunia yang sangat luar biasa, mengalahkan berbagai macam situs jejaring sosial lainnya. Dan ya, kini Friendster telah “out of date”, kita semua pergi meninggalkan Friendster dan sekarang telah menjadi generasi Facebook. Sekarang Friendster penuh dengan orang-orang yang… duh, (kalo kata orang) ngga banget deh. Ya, akhirnya we are the Facebook generation.
Posted by Fauzan at 00:43:15 | Permalink | Comments (1) »

Friday, July 10, 2009

Indonesiaku Tak Mau Kalah

Kemarin, 8 Juli 2009, masyarakat Indonesia baru saja menyelenggarakan sebuah pesta demokrasi akbar. Sebuah pesta rakyat yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Pesta rakyat ini dikenal dengan nama Pemilihan Umum Capres dan Cawapres. Di tahun 2009 ini, tiga pasang capres dan cawapres bersaing memperebutkan hati dan suara rakyat demi mencapai kursi RI 1 dan RI 2. Seperti yang kita ketahui bersama, ketiga pasang capres dan cawapres tersebut adalah Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto (Mega-Pro), Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono (SBY-Boediono), dan Jusuf Kalla dan Wiranto (JK-Win).

Dari ketiga pasang capres dan cawapres tersebut, pasangan SBY-Boediono berhasil memenangkan lebih dari 50% suara rakyat berdasarkan hasil quick count berbagai lembaga survei (baik lembaga survei independent maupun lembaga survei stasiun televisi). Selain itu juga, sebelumnya berdasarkan hasil exit poll, pasangan dengan nomor urut 2 ini juga memperoleh suara lebih dari 50%. Sementara itu, jika kita melihat ke belakang ketika dalam acara-acara debat capres dan cawapres yang disiarkan oleh beberapa stasiun televisi swasta di tanah air, hasil survei polling SMS juga menunjukkan bahwa masyarakat masih memilih pasangan SBY-Boediono dibandingkan kedua pasangan lainnya. Ini artinya baik dari hasilpolling SMS, exit poll maupun quick count, tidak jauh berbeda, dan tentunya hasil dari KPU pun tidak akan jauh berbeda dari perhitungan quick count. Mengapa? Karena tentunya seluruh lembaga survei yang mengadakan quick count menggunakan metode-metode yang harus bisa dipertanggungjawabkan, apalagi hasil quick count ini disiarkan di berbagai siaran televisi di seluruh tanah air. Hasil quick count ini tentu sangat berhubungan dengan reputasi si lembaga survei, jadi rasanya sangat tidak masuk akal kalau si lembaga-lembaga survei ini melakukanquick count yang tidak tepat.

Nah, berdasarkan hasil quick count beberapa lembaga survei, pasangan SBY-Boediono menang mutlak. Lalu, bagaimana pendapat kedua pasangan lainnya? Ternyata tidak ada yang benar-benar berjiwa besar. Tidak ada yang benar-benar mengakui kekalahan. Yang ada justru malah mencari-cari alasan dan kesalahan pihak lain. Salahkan si A, si B, si C. Salahkan pemerintah, KPU, tim sukses, dsb. Loh, kenapa begitu? Bagaimana bisa menjadi pemimpin kalau untuk menerima kekalahan saja tidak bisa? Saya jadi teringat dengan pemilihan capres dan cawapres di Amerika Serikat antara Obama melawan McCain. Kedua calon ini jelas sangat berbeda. Benar-benar berbeda. Perbedaan paling mencolok adalah dari warna kulit. Perbedaan lainnya adalah masalah pandangan-pandangan politik, ekonomi, dsb. Dalam berbagai kesempatan kampanye atau pun debat, tidak jarang kedua rival ini saling menyindir dan bahkan terkesan menjatuhkan lawan. Namun, apa yang terjadi pada saat pemilihan berlangsung? Hasilquick count di malam hari memperlihatkan bahwa Obama unggul mutlak dari lawannya McCain. Apa yang terjadi? Kedua kubu saling berpidato di depan massanya masing-masing. Di suatu tempat, Obama dan Biden disambut meriah oleh ribuan rakyat AS yang berkumpul untuk merayakan kemenangannya. Obama berpidato dan mengucapkan terima kasih pada rakyat AS dan juga mengatakan bahwa AS telah membuat perubahan dan malam itu sejarah baru AS dimulai, tetapi tidak lupa juga untuk mengucapkan terima kasih kepada lawannya McCain. Sementara itu di suatu tempat di kubu Republik, McCain berpidato di hadapan pendukungnya dan mengatakan bahwa hari itu, rakyat AS telah memilih. Inilah pilihan rakyat AS dan kita harus menghormati itu. McCain juga mengatakan bahwa dia telah menelepon Obama dan mengucapkan selamat kepadanya, dan tidak lupa McCain berpesan pada seluruh pendukungnya bahwa mereka semua harus mendukung sang presiden terpilih karena dia adalah pilihan AS. Dan perlu diingat bahwa pada malam itu belum ada hasil resmi bahwa Obama yang menjadi pemenang, tapi hasil quick count dari lembaga survei di AS menunjukkan bahwa Obama menang mutlak. Artinya quick count tersebut sudah bisa mencerminkan hasil resmi dari pemilihan tersebut. Sama halnya di Indonesia, mengapa mesti “gerah” dengan hasil quick count? Mengapa mesti tidak terima dengan hasil tersebut?

Wah, sebenarnya sungguh indahnya demokrasi di AS. Sungguh indahnya pesta rakyat tersebut. Yang menang tidak terlalu berbangga diri, yang kalah tidak berkecil hati, justru sangat berbesar hati. Mungkin bagi yang menang sudah wajar untuk bersenang hati, tapi tidak mudah bagi yang kalah untuk tetap berjiwa besar, seperti apa yang dilakukan McCain dengan menghimbau seluruh pendukungnya untuk tetap mendukung pemerintahan Obama karena itulah pilahan rakyat. Hal inilah yang tidak ada di Indonesia. Banyak yang ingin jadi pemimpin. Hanya ingin, tapi tidak siap. Ingin menang, tapi tidak siap kalah. Kenapa sih harus mencari-cari kesalahan orang lain. Kenapa sih harus menjadi oposisi, seolah-olah sudah ada jaminan bahwa pemerintah yang akan datang akan melakukan hal-hal yang menyulitkan rakyat dan merugikan negara? Jika memang (katanya) mencintai negeri ini, pro pada rakyat, kenapa kita tidak bersama-sama membangun negeri ini? Bukankah itu lebih indah? Sudah seharusnya, siapa pun yang menang, semua pihak harus mendukung yang menang. Dan yang kalah bukan berarti benar-benar kalah. Saya rasa tidak semua orang di negeri ini bisa memiliki kesempatan untuk menjadi capres dan cawapres. Mereka bertiga sebenarnya sudah menjadi orang-orang hebat. Namun, tentunya kita hanya memiliki satu orang presiden dan satu orang wakilnya. Tidak bisa ketiganya menang. Dan memang dalam sebuah kompetisi pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Yang kalah sepatutnya menerima kekalahan dengan ikhlas. Tapi ketika yang kalah tidak mau menerima kekalahan, justru orang itu tidak pantas menjadi pemimpin, orang itu akan benar-benar terlihat kalah. Karena hanya pemimpin sejatilah yang mau menerima kekalahan dengan jiwa besar dan menerima kemenangan dengan penuh tanggung jawab.

Dalam menulis artikel ini, sungguh saya tidak ada maksud untuk membela atau menonjolkan salah satu pasangan yang menjadi pemenang, terlebih lagi saya tidak ada maksud untuk menjelekkan pasangan lainnya. Hanya saja, saya sangat prihatin dengan sikap yang ditunjukkan oleh pasangan lainnya. Jadi, kenapa kita tidak bersikap legowo atau berlapang dada? Mari kita semua bersikap sportif. Mari kita bangun mental champion bukan sekedar mental winner. Sesungguhnya Indonesia ini bisa menjadi negara yang lebih baik lagi, dan saya percaya akan hal itu.

Indonesia telah memilih. Inilah pilihan rakyat. Tidak ada yang perlu merasa untung dan rugi karena ini bukanlah bisnis. Tidak ada yang perlu merasa terlalu senang atau kecewa karena bagaimanapun juga kita semua yang turut serta membangun negeri ini. Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu jua. Itulah Indonesiaku yang seharusnya.

Posted by Fauzan at 07:33:49 | Permalink | No Comments »